Jumat, Juni 26, 2009

Waktu Kecilku

 Ini adalah fotoku saat masih sekolah dasar. Aku ingat banget, kalau setiap lebaram seringnya jalan-jalan dengan teman sebaya, dan tak lupa
berfoto ria distudio.
Foto culunku waktu kecil bersama tiga adikku (botak semua) Ruzi, Julia dan Ita. Yang dibangku Mak Woku itu Ita. Sedangkan yang dibelakang Mak Wo, Cik Ida, adik makku yang bungsu. Yang di tengah Kak As, anak tunggal Mak Woku, Cik Itan sepupu emak.

 

Keluarga Baru

    

Ponakan baru lahir beberapa waktu lalu, cucu atuk ke 13, anak dari Ita. Untun Ita sendiri, merupakan anak yang ketiga. Dengan kehadiran Dhira (panggilan sehari-harinya), keluarga kami bertambah ramai.  
Sedangkan yang bertopi merah, Lidya, cucu yang ke 12, anak dari Hakim, adikku yang ke 4.


Kamis, Juni 25, 2009

Ta' Gendong Kemana-mana



Lagu Mbah Surip ini benar-benar disukai Mamnoor. Baru aja keluar iklannya di TV, Mamnoor sudah menirunya dengan menyanyikan lagu itu, walau hanya bait pertamanya saja. Terus berulang-ulang. Cukup menggemaskan memang, melihat ulah Mamnoor itu. Lucu abis, pokoknya. Ditambah lagi suaranya lumayan merdu. Wah..tambah seneng deh dengerinnya.
Tapi nyatanya Mamnoor nggak puas hanya sekedar meniru lagunya saja. Mamnoor pun mempraktekkannya dengan minta digendong. Sasarannya siapa saja. Ya Papa, Mama, dan kakaknya. Tapi lebih seringnya mama, sih. Udah gitu, minta dibawa kemana-mana lagi, sambil menyanyikan lagu itu. Terpaksa deh, keliling rumah dan sesekali keluar rumah sambil menggendong Mamnoor. Keselnya, pas lagi asyik nyantai nonton atau baca koran, tiba-tiba dari belakang Mamnoor manjat dan duduk di leher. Mau nggak mau, ya, digendong!

Perpisahan Qilla


Qilla bersama teman-temannya selesai menari Tari Persembahan. Tari ini sudah merupakan tarian wajib di Riau khususnya. Setiap acara, apa saja, tari ini tampaknya tidak pernah ditinggalkan, baik acara skala kecil maupun acara besar. Tarian ini sekaligus bermakna ucapan selamat datang kepada para tamu dalam sebuah perhelatan, dengan memberikan sirih kepada para tamu undangan. Biasanya tamu yang mendapatkan sirih ini, tamu spesial atau para pejabat.

Perpisahan SD Qilla walau dadakan berjalan cukup ramai. Hampir seluruh orangtua murid datang. Semuanya penasaran sekalian ingin mengetahui tentang kelulusan anaknya masing-masing. Alhamdulillah, pengumuman dari Kepala Sekolahnya semuanya berhasil lulus.
Sayangnya, kami tak bisa melihat Qilla nari persembahan. Datangnya terlambat. Padahal penasaran juga, seperti apa Qilla nari yang latihannya dadakan itu. Kata Qilla, sih, oke-oke aja. Nggak ada yang salah. ''Ada sih Ma, salah. Itu karena kasetnya jelek, nggak kedengaran,'' kata Qilla diaminni kawan-kawannya.
Perpisahan kali ini yang punya gawe kelihatannya wali murid. Para gurunya malah duduk manis di tempat yang disediakan. Sedangkan panitia dari wali murid sibuk mengurus segala sesuatunya.
Perpisahan SD Qilla ini sebenarnya terlambat dibandingkan dengan SD-SD lainnya yang lebih dulu mengadakan perpisahan. Saya nggak tahu persis kenapa. Mungkin saja berhubungan dengan imbauan Pemko, kalau sekolah tak boleh membebani wali murid dengan pungutan-pungutan termasuk uang perpisahan. Lha, kalau tak ada dana mana bisa membuat sebuah acara? Karenanya, Selasa kemarin sekolah mengundang rapat seluruh wali murid membicarakan soal perpisahan. biar sekolah terkesan lepas tangan, semuanya diserahkan kepada wali murid. ALhasil, setiap wali murid diminta iuran Rp75 ribu. Saya yang nggak hadir, setuju-setuju saja apa yang diputuskan oleh rapat.


Mama dan Mamnoor di sela-sela acara perpisahan.

Tari Tor-tor ini sebenarnya tari orang Batak. Tapi tarian ini yang biasanya ditampilkan di akhir acara sudah banyak pula ditampilkan di Pekanbaru. Para penari Tor-Tor ini menerima saweran pengunjung yang diberikan sambil menari. Sambil memberikan saweran kepada seluruh penari, pemberi saweran ikutan menari mengikuti irama lagu.

Aqilla dan seluruh teman teman kelas VI menyanyikan lagu Hymne Guru.

Rabu, Juni 24, 2009

Qilla Latihan Nari Dadakan


Hari ini Rabu (24/6), Aqilla mendadak diminta latihan nari untuk perpisahan kelas VI, Kamis, 25 Juni 2009. Terang aja kami pada heran. Apa bisa latihan cuma sehari untuk penampilan perpisahan besok.
Kata Papa: ''Bisa aja, kalau nari cuma begini'', sambil memperagakan gaya tari lenggak kanan lenggok kiri.
Kontan saja aksi Papa menimbulkan tawa kami semua. Sementara Qilla cuma menjawab, entahlah.
Jadinya, sepanjang Rabu Qilla sibuk dari pagi sampai sore.
Sebelum berangkat ke kantor sore hari, Aqilla sudah dapat bocoran kalau seluruh siswa kelas enam lulus semua. Dan Qilla juga sudah tahu kalau prestasinya di urutan keempat. Apapun hasilnya Alhamdulillah....Qilla sudah membuktikan selama ini dia tak pernah tergeser dari lima besar. ''Tapi nilainya baru bisa tahu hari Jumat, Ma,'' tambah Qilla.
Kami masih bingung kemana melanjutkan sekolah Qilla. Awal-awalnya memilih mondok saja, karena banyak nilai plusnya dibanding sekolah umum. Pondok yang sudah kami daftarkan di Dar El Hikmah, tempat Miftah dan Meimun mengabdi. Kenapa di sana yang menjadi pilihan, karena anak Meimun juga sekolah di sana. Sedangkan Raisa, anak teman mama, Yasrib dan Uus, sudah memilih pondok lainnya yang berada di Pekanbaru juga. Kalau nggak salah Pondok Pesantren Al Ihsan. Kata Uus Raisa tertarik di sana karena situasinya pondok banget. Masih banyak hutannya dan ada kolam ikan. Bangunannya pun seperti pondokan. Sekolahnya pun baru dua tahun berdiri.
Kata Papa Qilla, kalau sekolahnya masih baru, yang lain aja dulu. Jadinya, kami tak memilih di tempat Raisa. Walau aku penasaran banget seperti apa Uus menempatkan anaknya di pondok Al Ihsan. Pikirku, pasti ada nilai plusnya kenapa Uus setuju menyekolahkan anaknya di sana. Tapi keinginan itu belum juga terwujud sampai sekarang.
Selain mondok, ada juga keinginan lainnya untuk memasukkan Qilla di SMP pavorit saja. Kalau nilainya memang bagus dan masuk kategori, kenapa tidak dicoba saja. Yah...semua itu masih dipikirkan dulu, aksinya nanti setelah nilainya sudah diketahui.



Selasa, Juni 23, 2009

Selamat Hari Jadi ke-225

Hari ini, 23 Juni 2009, hari jadinya (Ultah) kotaku Kota Pekabaru ke 225. Hari ini juga telah berlangsung sidang paripurna di Gedung DPRD Pekanbaru Payung Sekaki, dihadiri seluruh petinggi daerah ini, baik kota maupun provinsi. Banyak harapan ke depan dengan kota yang terus menggeliat ini. Semua mengakui, kalau Pekanbaru semakin maju, makin berkembang. Kondisi ini menjadikan kota perdagangan ini diminati pendatang. Akibatnya pertumbuhan penduduk pun meningkat tajam setiap tahunnya. Pekanbaru yang sejak dulu sudah heterogen makin heterogen.
     Perayaan Hari Jadi di gedung Payung Sekaki juga menuai pujian. Baru-baru ini Pekanbaru kembali meraih Adipura berturut-turut untuk ke limakalinya sebagai Kota Besar Terbersih dan Piala Wahana Tata Nugraha ke enam kali untuk ketertiban lalu lintas. Terhadap prestasi ini, Pemko makin bertekad, akan mempertahankan penghargaan tersebut. Sayangnya, Pekanbaru masih kurang pohon pelindung, Taman Kota, tempat rekreasi, yang menjadi PR Pemko Pekanbaru ke depan. Karena semua itu yang dituntut warga kota saat ini
. Tahniah Kotaku, semoga jaya selalu.

Minggu, Juni 21, 2009

Cagar Biosfer


(Inilah kawasan cagar biosfer yang terdiri dari hutan perawan, tasik atau danau dan beberapa aliran sungai. Di dalam cagar ini juga hidup bermacam flora dan fauna yang patut dilestarikan)

Kawasan H2C (Harap-harap Cemas)


TAHNIAH buat Giam Siak Kecil-Bukit Batu sebagai cagar biosfer ke tujuh di Indonesia. Atau, satu dari 553 cagar biosfer yang terdapat di 124 negara yang ditetapkan pada sidang 21st Session of the international Coordinating Council of the Man and the Biosphere Programme (MAB-ICC) UNESCO, di Korea Selatan pada 26 Mei 2009 lalu.
Ucapan selamat ini perlu, sebagai rasa syukur warga Riau dengan penetapan itu. Walau sesungguhnya memang banyak warga yang belum tahu apa itu cagar biosfer, apa fungsinya dan apa pengaruhnya buat masyarakat apalagi terhadap keselamatan bumi. Lalu, mengapa harus di Giam Siak Kecil-Bukit Batu? Apa keistimewaannya?
Jawaban dari pertanyaan di atas tidak dijawad dalam catatan ini, tetapi pembaca bisa mengetahuinya dalam liputan khusus edisi Ahad.
Pertanyaan ini sebenarnya sudah mengemuka dalam diskusi di 
ruang rapat Riau Pos, Rabu (17/6) lalu. Ada yang optimis penuh harap, tidak sedikit pula yang pesimis penuh kecemasan. Pesimis di sini bukan berarti tak mendukung. Namun, dilihat dari kenyataan yang ada, pantaskah kawasan Giam Siak Kecil dijadikan cagar biosfer?
Sebagaimana dikatakan Kepala BLH Bengkalis, sesungguhnya hutan di Bukit Batu sudah banyak yang dijarah. Kegiatan illegal logging terus saja terjadi. Itu artinya apa? Artinya lingkungan di sana sudah rusak, tidak lagi menjadi hutan semula jadi. Artinya juga, ekosistem yang ada di sana paling tidak sudah terganggu, sudah diobrak abrik oleh tangan yang tak bertanggung jawab.
Lagi pula, kawasan cagar bioefer Giam Siak Kecil-Bukit Batu cukup luas, meliputi tiga kabupaten. Bengkalis, Siak dan Kota Dumai. Total areanya mencapai 701.984 hektare. Terbagi atas 29 persen di Kabupaten Siak, 67 persen masuk ke dalam Kabupaten Bengkalis dan sekitar 4 persen lainnya masuk ke dalam Kota Dumai. Berdasarkan zonasinya area inti zona penyangga seluas 222.426 hektar (32 persen) dan area transisi seluas 304.123 hektare (43 persen).
Bayangkanlah betapa luasnya Giam Siak Kecil-Bukit Batu tersebut. Bisakah dijamin potensi alam yang sangat bernilai didalamnya tidak diganggu? Jadi, dimananya cagar biosfer itu? Pertanyaan ini muncul karena dalam fikiran kita tentulah yang menjadi cagar biosfer itu masih alam semula jadi. Belum ternoda oleh tangan-tangan penjarah yang hanya menguntungkan diri sendiri.
Jika tidak mau dijarah, sudah seharusnya cagar biosfer terse
but memberikan manfaat bagi warga sekitar. Hal seperti inilah yang menjadi kecemasan dari berbagai pihak, apakah kawasan biosfer tersebut bisa mensejahterakan ekonomi warga tempatan. Soalnya, sangat diperlukan komitmen masyarakat untuk menjaga kawasan tersebut.
Sudah menjadi rahasia umum, kalau hutan dan SDA di bumi Lancang Kuning ini sudah luluhlantak. Sebagaimana dikatakan Budayawan Riau Yusmar Yusuf, eksploitasi berlebihan terhadap alam sudah luar biasa. Bahkan dampaknya bisa menenggelamkan pulau-pulau kecil. Hutan jadi gurun pasir. Ditambah lagi yang memanfaatkannya adalah SDM yang rendah yang menggunakan SIM putra daerah.
Mudah-mudahan dengan ditetapkan Giam Siak Kecil-Bukit Batu 
sebagai cagar biosfer, mampu mengurangi kerusakan alam. Paling tidak, apa yang tinggal bisa dipelihara dan benar-benar berfungsi sebagai penyelamat alam, melestarikan ekosistem bagi dunia, berikut kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya di dalamnya, 
serta mengantisipasi dampak negatif pemanasan global.
Sebagaimana kata Ketua Komite Nasional Man and the Biosphere Indonesia yang juga Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Endang Sukara, ditetapkan kawasan ini sebagai cagar biosfer harus disambut dengan gembira terutama untuk kepentingan penyelamatan alam dan ummat manusia tidak hanya di Riau akan tetapi juga dunia.
Sebagai warga Riau, tentunya kita sangat gembira. Sebab, dalam kegembiraan itu muncul banyak harapan dan mimpi, walau rasa cemas kerap mengusik kegembiraan tersebut. Untuk itu, Pemerintah wajib menjawab harapan itu dengan mewujudkan cagar biosfer berdaya guna bagi semua ekosistem termasuk manusianya. Dengan begitu, mimpi mewariskan alam Riau untuk Dunia menjadi nyata. Kalau sudah begini, apa kata dunia? Sekali lagi, tahniah.

nurizahjohan@riaupos.com
nurizahjohan@ymail.com

NB: Tulisan ini merupakan catatan akhir pekan yang terbit edisi Ahad, 21 Juni 2009 dalam koran Liputan Khusus yang membahas cagar biosfer ini dari segala sudut pandang.


Jumat, Juni 19, 2009

Naik Trans Metro Gratis


Warga Kota Pekanbaru dalam tiga hari ini dimanjakan oleh Bus Trans Metro Pekanbaru. Kemanapun tujuan mereka selama itu menjadi rutenya Trans Metro, tidak dipungut biaya alias gratis. Kebiajakan itu sengaja diambil Pemko karena ingin mengenalkan keberadaan Trans Metro yang mulai beroperasi di kota ini. Selain taarruf, gratisan ini juga dala rangka HUT Kota Pekanbaru yang ke 225, 23 Juni 2009.
Terang saja, kebijakan ini disambut hangat oleh warga kota. Buktinya, dalam dua hari ini warga berebutan naik bus Trans Metro ini. Termasuk para pelajar. Mungkin saja warga kota naik Trans Metro karena ingin mencoba saja. Soalnya Pak Wali Kota promosinya gencar banget. Katanya, Trans Metro cukup nyaman. Makanya dia mengajak warga untuk memanfaatkannya.
Tapi apapun itu, kehadiran Trans Metro pastinya sangat dinanti warga kota. Apalagi rutenya termasuk rute baru yang tidak dilewati angkutan umum sebelumnya.


Warga berdesakan naik Trans Metro. Mumpung gratis.

Senin, Juni 15, 2009

Wisata Religi di Kubah Emas


Emakku, Mak Cikku, Makwoku yang begitu ingin mengabadikan kedatangan mereka di Kubah Emas Depok ini.

Pesona Masjid Kubah Emas yang terletak di daerah Depok, Jawa Barat, menjadi pembicaraan yang mengasyikkan bagi keluarga besarku yang kebetulan datang ke Jakarta awal Juni 2009 lalu. Rasanya nggak afdol kalau sudah ke Jakarta tak menempuh si Kubah Emas, sebuah wisata religi yang melahirkan rasa aman dan damai setelah menunaikan salat sunat dan Salat Zuhur di sana. Salah satu buktinya, salah seorang keluargaku yang biasa ku panggil Maktuo atau Tukmak, langsung mempunyai hajat ingin menunaikan ibadah umrah. Keinginan itu tiba-tiba saja muncul dari hatinya setelah mengunjungi kubah emas.


Salah satu pemandangan di dalam masjid sebuah langit-langit masjid yang dipenuhi awan. Kalau dilihat dari luar, inilah yang namanya kubah emas, sebuah kubah yang dilapisi warna kuning emas.

Makwoku, Emakku, dan Makcikku, khusuk salat sunat ba'da salat zuhur.

Di komplek kubah emas, disediakan ruangan yang cukup luas beralaskan keramik. Di sinilah para pengunjung melepaskan lelah, dengan tiduran, santai-santai dan menikmati bekal makanan mereka. Suasana cukup adem walau di luar matahari sangat menyengat.

Tak mau ketinggalan berfoto ria di salah satu sudut kubah emas.

Inilah seluruh keluargaku yang terdiri dari Makwo, makci, dan pak cik. Kehadiran mereka di Jakarta selain jalan-jalan utamanya menghadiri resepsi pernikahan salah seorang anak saudara.

Kamis, Juni 11, 2009

Malam Resepsi


Bundaku ditengah dengan sepupu-sepupunya, duduk di gedung sambil menunggu acara resepsi pernikahan Wulan Sabtu malam. Hal inilah yang sangat membahagiakanku bisa menyaksikan resepsi tersebut. Awalnya nggak mungkin bisa datang dan nggak kepikiran malah. 
Walau bundaku dan beberapa saudara ibuku ikut menghadirinya. Karena diajak RAPP meliput Pameran Lingkungan Indonesia 2009 pada waktu
 yang bertepatan dengan nikahnya adik saudara ibuku itu, 
aku hanya bisa bersyukur pada Allah atas nikmat NYA itu.

Kedua mempelai yang diarak menuju singgasananya di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan.

Para penari yang menyambut kedatangan kedua mempelai menuju pelaminan.

Jumat, Juni 05, 2009

Hari Kedua PLI


Hari kedua berlangsungnya Pekan Lingkungan Indonesia 2009 di Jakarta Conventions Centre (JCC) Jakarta, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar melakukan kunjungan ke seluruh stand peserta pameran., termasuk stand Pemerintah Provinsi Riau, Jum’at (29/5). Pada kesempatan tersebut, Rachmad Witoelar menyambangi stand PT.Riau Andala Pulp And Paper (PT.RAPP) yang berada di sisi kiri pintu masuk. Rombongan Meneg LH Rachmat Witoelar diterima langsung Corporate Affair Director PT.RAPP Ketut P.Wirabudi didamping Manajer Hubungan Media, Nandik Sufaryono, External Manager Edwar Wahab dan Kepala BLH Propinsi Riau Fadrizal Labay.

Sebenarnya acara hari kedua tak ada kecuali meninjau pameran. Tapi karena Pak Mentri datangnya siang ke pameran, terpaksa kami menunggu sambil melihat-lihat ratusan stan lainnya dari berbagai instansi dan provinsi se Indonesia. Dari pada bengong, kami nongkrong di cafe yang ada di JCC. Kebetulan ada artis Nugi, yang juga nongkrong, kami abadikan pertemuan tersebut.

Salah satu rasa syukurku kepada Allah atas keberangkatanku ke Jakarta adalah dapat
menghadiri akad nikah anak pak Cik, bernama Wulan. Untung nikahnya pagi Jumat, sehingga sebelum berangkat ke arena pameran sekitar jam sepuluhan, saya bisa menyaksikan akad 
nikahnya. Resepsinya digelar Malam Minggu di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta.

Kamis, Juni 04, 2009

Hari Pertama PLI 2009


Makan siang di Baso Lapangan Tembak Senayan. Rata-rata minta tongseng kambing. Kalau aku sih minta udang rica-rica. Makan tongseng? Uh..takut. Maksudnya takut kepanasan. Udahlah Jakarta panas, ditambah makan kambing lagi, kayak apaan tuh panasnya.

Sambil menunggu penjelasan dari berbagai pihak di Pameran Lingkungan Indonesia (PLI) 2009, kami berfoto dulu dengan nara sumber, diantaranya Kepala BLH rovinsi Riau, dan petinggi RAPP yang berkantor di Jakarta serta manajer hubungan media di Pekanbaru.

Stan Riau yang diisi berbagai instansi. Selain RAPP, stan ini juga diramaikan oleh beberapa Pemkab di Riau, Bengkalis, Rokan Hilir, Rokan Hulu, Dumai, Chevron Pacific Indonesia. Semuanya membawa tema penyelamatan lingkungan.

Wawancara dengan Kepala BLH Provinsi Riau.


Tawaran ke Jakarta

25 Mei 2009. Baru aja memasuki ruang rapat Riau Pos. Tiba-tiba saja saya ditawarkan korlip Riau Pos Asmawi, untuk ke Jakarta meliput acara RAPP. Dalam hati saya keJakarta? Wah..oke banget. Saya sangat menginginkannya. Kebetulan ibu dan saudara yang lain pada berangkat ke Jakarta karena salah seorang anak Ngah Syam (Pak Cik) yang selama ini tinggal di Petamburan menikah. Namanya Wulan. Saya kenal banget, sebab selama saya menjadi mahasiswa di Ciputat dulu setiap libur mainnya ke sini terus. Modal cepek naik Koantas Bima,sudah sampai di rumah ini. Walau pun berdesak-desakan, gerah, berdiri, dan tak jarang ada yang usil bukanlah suatu halangan.Tapi meliput RAPP, sebuah perusahaan pulp terbesar di Indonesia itu? Wah...saya mikir-mikir dulu, acara apa ya? Tawaran ini saya diamkan dulu sampai pekerjaan saya selesai. Sebelum pulang saya dapatkan Asmawi menanyakan tawaran tadi siang. Setelah melihat faks dari RAPP untuk meliput Hari Lingkungan Nasional, saya langsung mengiyakan. Maka, malam itu juga nama saya didaftarkan. Besoknya saya dihubungi Budi, humas RAPP kalau kami harus ngumpul di bandara sekitar jam lima sore, naik Garuda pemberangkatan jam enam.
27 Mei 2009. Saya sampai ke Bandara sekitar pukul 17.15 menit. Teman-teman sudah meunggu empat orang. Semuanya pria. Budi dari RAPP, wartawan Riau Mandiri, Pekanbaru Tribun, Riau Terkini.com, dan saya dari Riau Pos. Sampai di hotel sekitar jam sepuluhan. Soalnya kami singgah dulu di Lembur Kuring untuk makan malam. Saya merasakan keberangkatan ini benar-benar berkah. Karena sekali dayung dua tiga pulau terlampau. Saya berharap bisa menghadiri nikah adik dan bertemu dengan keluarga besar di Jakarta. Lebih dari itu saya juga berharap bisa bertemu kawan-kawan Mbelan dan kawan-kawan Ciputat. Amin....Alhamdulillah wa syukurillah.
.