Sebentar lagi PWI cabang Riau mengadakan turnamen futsal antar media, putra dan putri. Kami sudah membuat tim dan akan berlatih supaya bisa menjadi pemenang, paling tidak tetap mempertahankan posisi kedua sewaktu turnamen futsal Chevron beberapa waktu lalu.
Minggu, April 25, 2010
Jadi bulan-bulanan
Sebentar lagi PWI cabang Riau mengadakan turnamen futsal antar media, putra dan putri. Kami sudah membuat tim dan akan berlatih supaya bisa menjadi pemenang, paling tidak tetap mempertahankan posisi kedua sewaktu turnamen futsal Chevron beberapa waktu lalu.
Jumat, Februari 19, 2010
Masuk Tiga Besar
Rabu, Februari 03, 2010
Obsesi Juara Satu
Rabu, Desember 02, 2009
Semarak Pers 2009

Semarak Pers 2009 lokasinya masih sama dengan Semarak Pers 2008, di Taman Hotel Aryaduta. Sayangnya kali ini tak berhasil mendapatkan doorprize yang semakin Ok punya. Tapi tak apa-apa, tetap juga mendapat hadiah. Kalau semua tak membawa pulang hadiah, bukan even Chevron namanya. Sebab, apapun bentuknya, walau murah meriah, semua peserta tetap mendapat cendramata. Apalagi sekarang sistemnya di bagi perkelompok. jadi, menang bersama, kalah juga bersama. Kalah menang hadiah tetap ada dan lumayan berguna seperti teflon maxim dan keperluan lainnya.
Kebetulan saya bergabung dengan tim kuning bernama kelompok buaya. Saya dan tim sedang meneriakkan yel-yel yang cukup heboh. Rasanya sudah optimis kalau yel kami akan menang. Eh, sayangnya tak dinilai. Di akhir acara foto dengan teman segrup yang berhasil mendapat door prize utama sebuah laptop Acer 10 inc. ''Alhamdulillah, ini rezeki anak,'' ujar Atan sambil mengusap perut istrinya yang sedang hamil.
Minggu, November 01, 2009
Futsal Chevron 2009
Sebenarnya akhir bulan ini banyak sekali acara yang bersamaan. Acara paling awal saya ketahui even Go Green dalam rangka menyelamatkan hutan Riau khususnya di wilayah PLTA Koto Panjang. Untuk acara ini sangat menarik. Selain Go Green (penghijauan), peserta Go Green juga berkemah malam minggunya sekalian acara api unggun dengan berbagai atraksi. Kebetulan saya termasuk tim panitia.
Even kedua barulah dapat info dari teman mbelan kalau ada Rakernas. Kalau ditanya mau apa ngga ikut acara ini, tentu saja saya mau. Kebetulan saya merindukan temen2 masa remaja saya, temen2 yang sepiring bersama, sekasur bersama dan sekamar bersama. Apalagi sudah hitungan tahun tak berjumpa.
Tak lama datang lagi informasi tentang Semarak Pers yang ditaja perusahaan migas terbesar PT Chevron Pacific Indoensia didahului dengan pertandingan futsal antar media. Karena waktunya bentrok, kami tim putri Riau Pos masih ragu untuk mendaftar karena sebagian besar kami ikut panitia Go Green. Tapi karena mulainya Jumat, kami nekat ikut walau besoknya Sabtu harus ke PLTA. Ternyata hari pertama kami menang di babak penyisihan dan kami tertantang untuk lanjut pantang mundur. AKhirnya pilihan kami terus lanjut main futsal, sementara Go Green kami banyak dibantu TNI termasuk dapur umumnya. Biarlah tim TNI yang menangani dan dibantu kawan2 lain yang tak ikut futsal. Akhirnya pilihan kami tak sia-sia, dengan berhasilnya meraih juara 2. Acara puncak Semarak Pers digelar minggu depan. Saya ingat, dalam acara ini saya mendapatkan doorprize sebuah sepeda gunung Polygon seharga Rp1,2 juta. Mudah2an, dalam semarak Pers besok bisa membawa hadiah lagi, sebab (biasanya) Chevron banyak menyediakan hadiah2 yang lumayan ok. Semoga.
Jumat, Juni 05, 2009
Hari Kedua PLI
Hari kedua berlangsungnya Pekan Lingkungan Indonesia 2009 di Jakarta Conventions Centre (JCC) Jakarta, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar melakukan kunjungan ke seluruh stand peserta pameran., termasuk stand Pemerintah Provinsi Riau, Jum’at (29/5). Pada kesempatan tersebut, Rachmad Witoelar menyambangi stand PT.Riau Andala Pulp And Paper (PT.RAPP) yang berada di sisi kiri pintu masuk. Rombongan Meneg LH Rachmat Witoelar diterima langsung Corporate Affair Director PT.RAPP Ketut P.Wirabudi didamping Manajer Hubungan Media, Nandik Sufaryono, External Manager Edwar Wahab dan Kepala BLH Propinsi Riau Fadrizal Labay.
Sebenarnya acara hari kedua tak ada kecuali meninjau pameran. Tapi karena Pak Mentri datangnya siang ke pameran, terpaksa kami menunggu sambil melihat-lihat ratusan stan lainnya dari berbagai instansi dan provinsi se Indonesia. Dari pada bengong, kami nongkrong di cafe yang ada di JCC. Kebetulan ada artis Nugi, yang juga nongkrong, kami abadikan pertemuan tersebut.
Salah satu rasa syukurku kepada Allah atas keberangkatanku ke Jakarta adalah dapat
menghadiri akad nikah anak pak Cik, bernama Wulan. Untung nikahnya pagi Jumat, sehingga sebelum berangkat ke arena pameran sekitar jam sepuluhan, saya bisa menyaksikan akad
nikahnya. Resepsinya digelar Malam Minggu di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta.
Kamis, Juni 04, 2009
Hari Pertama PLI 2009
Makan siang di Baso Lapangan Tembak Senayan. Rata-rata minta tongseng kambing. Kalau aku sih minta udang rica-rica. Makan tongseng? Uh..takut. Maksudnya takut kepanasan. Udahlah Jakarta panas, ditambah makan kambing lagi, kayak apaan tuh panasnya.
Sambil menunggu penjelasan dari berbagai pihak di Pameran Lingkungan Indonesia (PLI) 2009, kami berfoto dulu dengan nara sumber, diantaranya Kepala BLH rovinsi Riau, dan petinggi RAPP yang berkantor di Jakarta serta manajer hubungan media di Pekanbaru.
Stan Riau yang diisi berbagai instansi. Selain RAPP, stan ini juga diramaikan oleh beberapa Pemkab di Riau, Bengkalis, Rokan Hilir, Rokan Hulu, Dumai, Chevron Pacific Indonesia. Semuanya membawa tema penyelamatan lingkungan.
Wawancara dengan Kepala BLH Provinsi Riau.
Jumat, April 10, 2009
Selasa, April 07, 2009
Juara Tenis Meja
Sebenarnya aku nggak pinter-pinter banget main tenis meja. Biasa saja. Paling-paling di atas pemula dan dibawah yang mahir (he..he..). Itu karena waktu aku nyantri di Pondok Pabelan, jika ada waktu dan kesempatan, kuisi waktu soreku dengan main tenis meja bersama kawan-kawan. Jika ada pertandingan antar kelas atau kamar, aku ikut mewakili kelas atau kamar. Untuk tingkat pondok, aku pernah memperoleh juara satu juga.
Ternyata hobiku main pimpong sewaktu di pondok membawa berkah saat aku kuliah di IAIN Syahid Ciputat (sekarang UIN). Pada Porseni mahasiswa 92, aku mewakili fakultas Adab, dan alhamdulillah berhasil lagi di posisi pertama.
Begitu juga ketika berada di lingkungan tempat tiggalku, aku diikutkan oleh RW sebagai wakil dari musalla dekat rumahku. Ya, selama aku bisa dan sempat, aku oke-oke saja. Padahal aku saat itu dalam kondisi hamil enam bulan. Tapi bisa juga main dan juara satu lagi. Pialanya untuk musalla.
Setelah itu juga mewakili Riau saat Porwanas 2005 lalu. Kalau di sini aku tak bisa merebut peringkat pertama. Tapi meskipun begitu di tingkat nasional tersebut, aku masih bisa meraih juara harapan. Perjalananku kandas ketika aku melawan kontingen Lampung di babak semi final. Permainan mereka memang hebat. Ku akui itu. Persis perti atlit beneran.
Dan memang, mereka mempersiapkannya selama beberapa bulan yang dilatih oleh pemain nasional beneran.
Terakhir, pertandingan tenis meja yang kuikuti ya sekarang ini. Mudah2an dengan kemenangan ini aku bisa ikut Porwanas yang tempatnya mungkin di Jawa Timur, Jakarta atau Irian. Maunya sih di Papua itu, sekalian bisa jalan-jalan jauh gratis.
Oya, selain tenis meja, aku juga pernah mewakili Riau ke tingkat nasional dalam acara MTQ Wartawan di Asrama Haji Pondok gede Jakarta, 2003 lalu. Aku ikut cabang murottal. Karena sebagai santri Pabelan tentu saja aku bisa mengaji dan menguasai tajwidnya. Tapi kalau untuk cabang tilawah, nggak deh. Nggak bakal berani. Soalnya aku tau diri dengan suara yang pas-pasan seperti ini. Saat itu aku ketemu dengan Awan (Mauludin Anwar) dan istrinya Titin. Duh...bahagianya aku saat itu. Karena keduanya karibku di kampus. Kami juga sekelas. Ternyata Awan yang sekarang wartawan SCTV ikut lomba murottal juga.
Selama pertandingan aku dan titin mengamati penampilan lawan-lawanku se Indonesia. Ada saja yang kesalahan yang kami ketahui. Maklum aku dan Titin kan sama-sama mantan santri. Titin Gintung, aku Pabelan. Sedikit banyaknya tahulah ayat-ayat / makhraj yang sedang dibacakan. Ada suaranya bagus tapi tajwidnya jelek. Ada juga yang hampir sempurna di akhir ayat keliru dikit.
Nah, pas giliranku, Titin ini lebih teliti, lebih memperhatikan bagaimana penampilanku. Setelah selesai dan belum duduk di tempat dudukku, ustad pembimbingku memberi acungan jempol. Aku anggap biasa aja. Ku pikir itu hanya sebagai dukungan saja karena aku selesai menjalankan tugasku sebagai duta Riau.
Ku lihat raut wajah Titin juga sumringah menyambutku. Dia bilang bagusan aku dari yang lain-lainnya. ''Kayaknya elu deh Nur juaranya,'' kata Titin. Walau dalam hati berharap iya, tapi sama sekali tak bisa percaya. Keyakinan Titin bertambah setelah semua peserta tampil, kalau akulah sang juaranya. Yach, yang namanya masih duga-duga siapa yang percaya? Apalagi cuma berdasarkan pendengaran saja. Walau aku juga yakin, aku salah satu juaranya, tapi bukan juara satu tentunya.
Sampailah malam pengumuman tiba. Juara pertama tilawah putra dan putri akan mendapat hadiah haji plus sejumlah uang. Sedangkan juara satu murottal, hadiahnya umroh dan uang. Nggak bisa dipercaya, ternyata dugaan Titin benar. Aku berhasil meraih juara pertama. Oya, selain umroh dan uang para pemenang juga mendapat piala. AKu saat itu mendapat piala dari Bang Yos (Sutiyoso) Gubernur DKI waktu itu.
Sayangnya, hadiah umroh yang kami harapkan (kebetulan utusan Riau dua2nya juara satu murottal) tak kunjung tiba. karena tak lama kemudian, Menteri Agama Said Agil tersandung DAU (Dana Abadi Umat). Hadiah yang dijanjikan untuk kami itu berkemungkinan menggunakan dana tersebut.
Pulang dari Jakarta, kami (kontingen Riau) disambut sukacita oleh teman2.karena Riau jugasebagai juara umum pada MTQ wartawan nasional tersebut. Selain murottal, cabang tilawah putra juara 2, cabang anak-anak juga ada yang menang. Bonus pun sudah menanti kami. Asyik...
Baru saja aku ingat, anak temanku sewaktu di Pablean Kak Nurudin dan Mba Isna juga ikut lomba hafalan juz amma untuk anak-anak wartawan. Kalau nggak salah, anak mereka mendapat juara juga. Saya tak ingat juara berapanya.
Senangnya menerima hadiah juara satu tenis meja putri.
Para juara tenis meja putra dan putri foto bersama usai menerima sertifikat dan sejumlah uang.
Pemred Riau Pos Raja Isyam Azwar menerima piala dan sejumlah uang sebesar Rp7.500.000 karena Riau Pos berhasil menggondol juara II kejuaraan sepak bola antar media di Riau, dalam rangka HUT PWI dan HPN.
Malam resepsi HUT PWI dan Hari Pers Nasional juga ditandai dengan memberikan penghargaan kepada wartawan senior yang juga dianggap telah banyak mempengaruhi perkembangan media di Riau. Tampak CEO Riau Pos group Rida K Liamsi sedang menerima penghargaan tersebut.
Para pemenang lomba karya tulis novi juara 1, zulmansyah juara dua
(keduanya dari Riau Pos) dan Amril juara tiga dari Riau Mandiri. Foto bersama dengan gubernur Riau,
ketua dewan juri dan ketua PWI Riau.
Sabtu, Januari 24, 2009
Farida Dapat Bantuan Perahu
Farida membawa rombongan untuk kedua kalinya.
Effi Mardianto (mendagri) didampingi Ny Gubri (Septina, kiri) dan Ny Sekda (Maulida, kanan) menyaksikan Farida yang membawa rombongan ke seberang.
Salah seorang anak Farida yang disentuh Ny Effi Mardiyanto.
Ini dia caleg Golkar DPRD Riau pemilihan Pekanbaru Erna Wiliyanti (tengah) yang bagi-bagi angpao.
Pas lagi acara tiba-tiba sekawanan enceng gondok melintas. Dengan cekatan petugas menjauhkannya dari tempat acara.
Farida kembali lagi ke tempat setelah membawa keliling sejumlah ibu-ibu.
Farida siap-siap membawa rombongan yang ingin mencoba perahu barunya farida.
Siang, sekitar pukul 11.30 WIB Selasa 19 Januari lalu, saya dihubungi Ketua BKMT Ibu Hj Roslaini Ismail Suko. Kata beliau, mereka akan memberi bantuan sebuah perahu kepada Farida, tukang ojek perahu yang pernah saya wawancarai. Tentu saja saya senang mendengarnya. Bantuan itu sangat berharga bagi Farida. Bagaimana tidak. Farida mencari uang dengan mengojek perahu. Sementara selama ini, Farida hanya bisa menyewa dari pemilik perahu. Artinya, jika Farida memiliki sendiri perahu, tentu dia bisa berhemat. Paling tidak, Farida tak perlu lagi mengeluarkan uang sewa perahu.
Bu Roslaini, menambahkan, pemberian perahu itu akan disaksikan oleh istri Menteri Dalam Negeri Ny Effi Mardiyanto, yang kebetulan mengikuti suami ke Pekanbaru untuk sebuah urusan negara. Jadi ceritanya, kehadiran Ny Effi mardiyanto dimanfaatkan pengurus BKMT.
Sesuai jadwal, sekitar pukul 08.30 pagi, acara dimulai. Diisi dengan sambutan-sambutan dari Ny Effi Mardiyanto sebagai Ketua TP PKK Pusat, sambutan Hj Septina Primawati Rusli MM, sebagai TP PKK Riau, dan sambutan dari Hj Roslaini sebagai Ketua BKMT Riau yang mempunyai hajat. Sedangkan Farida, sebagai penerima bantuan, tak henti-hentinya menyungging senyum. Farida memang tampak bahagia. Dia juga tak menyangka kalau dia mendapat bantuan yang diserahkan sedemikian rupa. Hatinya berbunga-bunga. Rasanya dia tak menginjak tanah saking senangnya. Ini beneran lho, Farida sendiri yang mengakui setelah saya tanyakan tentang perasaannya. Katanya dia tak menyangka bisa bertemu ibu-ibu pejabat. Apalagi dia mendapat kehormatan untuk membawa sekelompok ibu-ibu pejabat berkeliling naik perahu. Walau melawan arus, karena saat itu arus sungai cukup deras, namun Farida tak terbebani. Dia selalu tersenyum, kendati peluh sudah membasahi pakaiannya.
Dan yang lebih menyenangkan farida, ketika acara seremonial sudah selesai, ada seorang caleg Golkar menyatakan diri ingin menjadi penumpang Farida pertama dengan perahu yang baru. Tiba-tiba Farida memanggil saya agar menemani caleg tersebut naik perahu. Ya..saya setuju. Setelah bolak balik dari seberang sungai, Farida mendapat bayaran yang jumlahnya lumayan banyak. Inilah yang menambah kebahagiaan Farida. Sudahlah mendapatkan perahu, dapat uang tunai lagi. Ehhh ternyata saya juga kebagian. Ketika saya kembalikan, caleg tersebut menolak. Saya bilang untuk apa. Jangan-jangan dia ingin menyogok saya biar dinaikkan beritanya karena saya dari Riau Pos. Saya berusaha kembalikan. Tegas-tegas dia bilang tak apa-apa. Ya...saya terima juga tanpa harus memberitakan tentang dirinya. Saya pikir, dia bagi-bagi rezeki (angpao) menyambut Tahun Baru Imlek. Kebetulan dia dari etnis Tiongha, yang tak lama lagi 26 Januari 2009 berhari raya. Kalau begitu Gong Xi Fat Choi, lah! He....lumayan!!!!!
Sabtu, Desember 20, 2008
Asyik, Dapat Door Prize Polygon
Gembira, usai menerima hadiah sepeda gunung.
Salah satu lomba pukul bantal di Semarak Pers 2008. Pemenang utamanya mendapatkan satu unit kulkas.
Mamnoor tak peduli dengan kehebohan sekelilingnya. Yang penting bisa mandi gratis sepuas-puasnya di kolam renang Hotel Aryaduta.
Mamnoor sedang diawasi papa biar mainnya tak jauh-jauh.
Mamnoor siap-siap megang handuk untuk mandi, tapi difoto dulu sama mama.
Tiga ABG (Amak Berlagak Gadis) Riau Pos Grup, Nurizah Johan, Deslina dan Larashati, Pemred Riau televisi.
Foto menjelang lomba tusuk balon. Larashati (bertopi) salah satu pemenangnya.
Sempat-sempatnya minta difoto saat menyaksikan perlombaan.
Mamnoor digendong papa.
Di setiap penghujung tahun, sebuah perusahaan minyak terbesar di Riau dan Indonesia, Chevron Pacific Indonesia (CPI) --dulunya Caltex--- mengadakan acara Semarak Pers bagi wartawan seluruh media cetak dan elektronik yang berdomisili di Pekanbaru. Acara ini disambut hangat insan pers setiap tahunnya. Selain mengikat silaturahmi dengan CPI sebagai mitra kerja wartawan, Semarak Pers ini banjir hadiah. CPI selalu mengerti kebutuhan jurnalis dengan menyediakan hadiah-hadiah yang menarik dan sangat diperlukan.
Semarak Pers 2008 yang berlangsung Sabtu, 20 Desember 2008, digelar di Taman Hotel Aryaduta. Tahun-tahun sebelumnya, Semarak Pers selalu digelar di lapangan terbuka, seperti bumi perkemahan Chevron di Rumbai dan Taman Rekreasi Alam Mayang. Dua tempat yang disebutkan ini, cukup luas dan nyaman. Ternyata di Hotel Aryaduta lebih menarik. Selain rumput hijaunya cukup representatif untuk acara tersebut, juga didukung kolam renang. Karena itu pula, Semarak Pers kemaren, ditambah lomba pukul bantal di atas kolam. Lomba ini belum pernah diadakan, karena, memang tempat yang dipilih tak pernah ada kolamnya.
Suasananya sangat meriah. Setiap tahun ada saja hal yang baru disediakan CPI. Tiga tahun terakhir ini acara diserahkan ke EO (even Organizer) yang terdiri dari anak-anak muda. Kontan saja, anak-anak ini membuat acara lebih hidup dan bergairah.
Selain pukul bantal di atas kolam renang, yang juara pertamanya mendapatkan hadiah sebuah kulkas (wow!), lomba lainnya tusuk balon dengan mata tertutup, merangkak di atas telur yang dibatasi jaring plastik, menembus jaring laba-laba tanpa menyentuhnya, lomba domino, lomba joget, dan lomba mencari teman dari 10 menjadi empat. Ke semua pemenang lomba mendapatkan hadiah yang menarik, lebih dari satu hadiah. Belum lagi door prize nya yang juga heboh, antara lain Laptop dua unit, TV, kulkas, kompor gas plus tabung, sepeda gunung merk Polygon dua unit, dan hadiah hiburan lainnya, seperti USB, kaos dispenser dan lainnya.
Kebetulan, saya mendapat hadiah sepeda gunung. Harganya masih tercantum di sepedanya sebesar Rp1.120.000. Seneng banget. SOalnya anak-anak sangat memerlukannya. Mereka selalu mendesak minta dibelikan sepeda lagi. Sebab, sepeda lama mereka sudah kecil karena badan mereka terus membesar. Kadang-kadang sering juga melihat-lihat sepeda, tapi harganya rata-rata di atas satu juta merk Polygon. Itu pun mungkin termasuk yang paling murah bagi Polygon. Merek lainnya memang ada di bawah satu juta, tapi hati ini cenderung polygon juga. Soalnya memang kuat. Terbukti punya anak-anak sejak kecil sampai sekarang masih bisa dimainkan, termasuk Aqilla. Walau sebenarnya, menurut usia dan ukuran badannya sudah tak pantas lagi menungganginya. Sesekali Qilla tetap saja keliling lingkungan dengan sepeda mininya itu.
Bayangkan saja. Betapa bahagianya anak-anak, mamanya mendapatkan door prize sepeda yang diidam-idamkan. Langsung mereka main sepeda baru secara bergantian, karena ingin mencoba yang baru. Sepeda lama untuk sementara diabaikan.Kebahagiaan mereka juga saya rasakan, apalagi nggak jadi mengeluarkan uang jutaan hanya untuk sepeda.***
Lokakarya Redaktur

Foto bersama dengan peserta dan pembawa makalah. Aku (jilbab hitam) berada di tengah-tengah sebelah Kepala Biro Antara Riau, Evi R (baju garis2 jilbab putih)
Lokakarya Bahasa Indonesia, Bahasa Media
Kamis, 18 Desember 2008 kemarin, aku mengikuti lokakarya Bahasa Indonesia, Bahasa Media. Lokakarya ini ditaja oleh LKBN Antara Biro Riau, yang dipimpin seorang wanita, temenku, Evi Ratnawati Syamsir. Tema ini diangkat karena bahasa yang digunakan media akhir-akhir ini sudah merusak tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Banyak media salah kaprah menggunakan istilah, singkatan, dan penggunaan lainnya. Kalau dibiarkan, hal ini bisa berbahaya. Bisa-bisa masyarakat mempercayai kalau itulah yang benar. Padahal kenyataannya, media juga banyak salah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.
Lokakarya ini diharapkan agar media terutama para jurnalis dan penulis, kembali menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah bahasa, seperti yang telah dikeluarkan Pusat Bahasa.
Sebanyak 30 lebih redaktur dari media cetak dan media elektronik mengikuti lokakarya ini yang dilaksanakan di aula Pustaka H Soeman HS. Pustaka ini baru saja selesai dengan arsitektur yang cukup megah. Katanya, pustaka ini yang terbesar di Asia. AKu juga mengakui, keindahan pustaka ini. Memang bagus dan megah. Buku-bukunya juga komplit. Dan aku menjadikan pustaka ini sebagai salah satu wisata pendidikan bagi anak-anakku. Sebab, begitu banyak buku anak-anak yang bisa dibaca. Apalagi ruangan pustaka anak tersendiri, di lantai dasar. Tempatnya aman dan nyaman.
Sabtu, Desember 13, 2008
Ojek Perahu (Sampan)
Tak mau ketinggalan momen saat mewawancarai tukang ojek perahu. Usai wawancara di atas perahu, aku minta difoto juga.
Farida tersenyum saat kameraku membidiknya yang sedang mengayuh perahu (di bawah).
Untuk kepentingan sebuah organisasi keagamaan BKMT yang ingin menerbitkan buku Opini 100 Perempuan Riau, yang akan diluncurkan Januari 2009 mendatang, aku diminta mewawancarai perempuan-perempuan marjinal yang harus berjuang hidup agar tetap survive, seperti tukang ojek perahu, penyapu jalan, pebersih gorong-gorong kota, loper koran, tukang parkir, Pembantu Rumah Tangga, Tukang pijat, pemulung dan sebagainya. Untuk mewawancarai mereka-mereka ini tidak sedikit energi yang ku keluarkan.
Misalnya ketika meminta waktu seorang pengojek perahu.Farida, ibu lima orang anak ini, sehari-harinya bekerja sebagai tukang ojek perahu di sungai Siak. Walau sudah ada jembatan, namun warga yang tak memiliki kendaraan lebih memilih naik perahu ke seberang, ketimbang melalui jembatan. Lebih cepat memang. Apalagi kondisi jembatan sudah padat oleh kendaraan yang berseliweran, walau jalan khusus untuk pejalan kaki juga disediakan.
Waktu aku ingin bertemu dengannya, Farida sedang berada di seberang. Untuk memanggilnya ke seberang tempatku, harus ada yang membantu. Untung temannya mau meneriaki sambil melambaikan tangan meminta Farida segera datang ke tempatku. Mungkin berharap ada penumpang, Farida segera ke seberang tempatku. Setelah mengetahui aku mau mewawancarainya, Farida menjawab ketus, terkesan putus asa.
''Wawancara-wawancara terus, tapi tak pernah mendapat bantuan,'' kata Farida.
Jawaban itu bukannya membuat nyaliku ciut, tapi justru aku penasaran, mengapa dia sampai berbicara seperti itu. Tentu ada alasan kekecewaannya itu dilimpahkan kepadaku. Lalu aku naik perahunya dan membuka pembicaraan yang sekiranya bisa membuat farida tidak terganggu. ALhamdulillah, walau awal sambutannya kurang menyenangkan, ternyata farida cukup ramah. Farida kecewa karena sudah banyak dia diliput media, baik cetak maupun elektronik, tetapi tak ada yang peduli akan nasibnya. Suaminya hanya sebagai buruh bangunan yang kadang dapat job kadang tidak. Makan sehari-hari sangat tergantung dengan hasil ojek sampan. Sementara mereka memiliki lima orang anak. Diantara kelima anaknya itu, hanya satu saja yang sekolah kelas dua SD, yaitu anak yang keempat. Si bungsu masih berumur dua tahun. Anak ke satu, kedua dan ketiga, terpaksa tak sekolah. Bahkan anak ketiganya terpaksa putus sekolah karena tak ada biaya. Padahal baru beberapa bulan mengenyam pendidikan di SMP swasta.
Makanya Farida berharap, ada yang membantu pendidikan anak-anaknya. Kalau untuk makan saja, dirinya mengaku sanggup. Cerita Farida ini memang membuatku miris, terenyuh. Hari gini masih banyak anak usia sekolah yang tak sekolah karena biaya? farida aku sarankan untuk mengadu ke wakil rakyat. Biasanya cukup ampuh. Ada saja nanti orang mampu yang mau menyekolahkan anaknya. Tapi farida tak mau. AKu pun bertekad akan menyampaikan nasib Farida ini ke organisasi BKMT. Mudah-mudahan BKMT mau menjadi orangtua asuh bagi anak-anak farida.