Tampilkan postingan dengan label kegiatan keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kegiatan keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 08, 2010

Pokoknya Denda, tu!!!




Dua weekend berturut-turut, aku, suami, dan dua anakku si sulung dan si bungsu menghabiskan sore jalan-jalan ke Mal SKA. Sengaja SKA yang kami pilih, sebab selain nyaman, jarak dengan rumah cukup dekat. Tak sampai dua kiloan. Sedangkan dua anakku lainnya, Ifa dan Zaki, masih sekolah. Mereka terpaksa kami tinggal.
Karena memang maunya jalan-jalan, kami menghabiskan waktu cukup lama di SKA. Sholat Ashar, Maghrib dan isya kami lakukan di mal ini yang menyediakan mushalla khusus perempuan di lantai dua dan laki-laki di lantai tiga.
Ngapain aja kok bisa selama itu? Yah..yang namanya lagi pengen jalan-jalan ada saja yang kami lakukan . Mulai dari pintu masuk kami langsung disambut bursa buku dan diskon 50 persen dari Mizan. Rasanya tak sanggup mengabaikan bookfair ini. lagsung saja masuk sambil melihat-lihat buku yang berkenan di hati. Akhirnya terbeli juga tiga buah buku.
Harganya memang relatif murah, bukunya juga bagus-bagus dan best seller. Terus keliling sambil diseret si bungsu di arena timezone. Main sebentar tak pake puas, sebab si kecil tak mau beranjak dari timezone tapi harus diakhiri. Lalu keliling mal. Pas lewat tempat karaoke keluarga, tergoda juga untuk bernyanyi ria agak satu jam. Kami berempat semuanya menyanyi. Untung dalam ruangan kedap suara. Tak ada yang bisa mendengar nyanyian kami. Entah musik lari atau suara yang tak pas, plus sumbang lagi! masa bodoh. Rasanya sudah seperti penyanyi ternama.
Pas pilih lagu yang enak untuk goyang, perasaan gatal-gatal bagian belakang biar segera berdiri dan bergoyang. Ya..dalam ruangan yang remang-remang akhirnya joget juga ngikuti irama. Entah berapa lagu yang sudah kami nyanyikan, tapi kok belum di off juga sampai saya harus keluar nanyain sama penjaganya, apakah waktu kami sudah habis atau belum.
Keluar karaoke kami Ashar-an dulu sesudah itu cari tempat makan. Pas lewat depan Papa Rons Pizza, si kecil minta mampir. Untung tadi pas masuk beli buku. So, pas nnggu pesanan bisa sambil baca_baca. Didukung tempatnya yang cukup nyaman, kami bisa sesantai mungkin. Menjelang maghrib baru keluar dan terus ke Hypermart. Biasalah di tempat ini setiap akhir pekan banyak tawaran belanja menarik. Sebagai IRT (Ibu Rumah Tangga), yang saya cari minyak goreng murah dan keperluan dapur lainnya yang lagi promosi. Nggak terasa sampai malam juga.
Sampai di rumah dua anakku yang ditinggal meradang. Mereka merajuk kenapa terus ditinggal. E...si kecil Mamnoor malah membisiki ke kakaknya kalau mereka habis makan pizza. Wah....bisa ditebak deh reaksi kakak dan abangnya, minta pizza juga malam itu. Terang aja nggak bisa. Sudah kecapaian. Biasalah..membujuk anak-anak pekan depan pasti dibawa. ''Oke, tapi sekarang harus beri kami jajan beli es krim,'' kata Ifa mulai mereda. ''Iya, pokoknya denda, tu,'' timpal Zaki. Lho.....????!!!!!






Rabu, Maret 10, 2010

Jogging di Masjid Agung





Paling asyik Sabtu sore jogging di halaman Masjid Agung Annur. Tempatnya cukup representatif. Hampir setiap pagi dan sore warga kota Pekanbaru memanfaatkan tempat ini. Tapi yang lebih banyak pada hari-hari libur. Yang datang pun multi etnis, karena memang disediakan untuk jogging atau sekedar berjalan kaki. Sudah beberapa pekan ini keluargaku menghabiskan waktu sore di sini. Bapaknya anak-anak sanggup lari beberapa kali putaran. Kalau aku tak sanggup lebih enjoy berjalan cepat. Yang penting keluar keringat. Walau kadang-kadang terganggu oleh bungsuku yang ingin mengiringi langkahku. Bayangkan sajalah anak umur empat tahunan berapa langkah bisa ikut jogging. Ya..ujung-ujungnya mengikuti kemauan si bungsu. Istirahat dan cari yang segar-segar.

Jumat, Juni 26, 2009

Waktu Kecilku

 Ini adalah fotoku saat masih sekolah dasar. Aku ingat banget, kalau setiap lebaram seringnya jalan-jalan dengan teman sebaya, dan tak lupa
berfoto ria distudio.
Foto culunku waktu kecil bersama tiga adikku (botak semua) Ruzi, Julia dan Ita. Yang dibangku Mak Woku itu Ita. Sedangkan yang dibelakang Mak Wo, Cik Ida, adik makku yang bungsu. Yang di tengah Kak As, anak tunggal Mak Woku, Cik Itan sepupu emak.

 

Keluarga Baru

    

Ponakan baru lahir beberapa waktu lalu, cucu atuk ke 13, anak dari Ita. Untun Ita sendiri, merupakan anak yang ketiga. Dengan kehadiran Dhira (panggilan sehari-harinya), keluarga kami bertambah ramai.  
Sedangkan yang bertopi merah, Lidya, cucu yang ke 12, anak dari Hakim, adikku yang ke 4.


Kamis, Juni 11, 2009

Malam Resepsi


Bundaku ditengah dengan sepupu-sepupunya, duduk di gedung sambil menunggu acara resepsi pernikahan Wulan Sabtu malam. Hal inilah yang sangat membahagiakanku bisa menyaksikan resepsi tersebut. Awalnya nggak mungkin bisa datang dan nggak kepikiran malah. 
Walau bundaku dan beberapa saudara ibuku ikut menghadirinya. Karena diajak RAPP meliput Pameran Lingkungan Indonesia 2009 pada waktu
 yang bertepatan dengan nikahnya adik saudara ibuku itu, 
aku hanya bisa bersyukur pada Allah atas nikmat NYA itu.

Kedua mempelai yang diarak menuju singgasananya di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan.

Para penari yang menyambut kedatangan kedua mempelai menuju pelaminan.

Minggu, Mei 10, 2009

Refreshing buat Aqilla


(Baru masuk ke mal, kami langsung menikmati lomba nasyid merebut hadiah Menegpora Rp50 juta)
Senin, 11 Mei 2009. Anak-anak SD mulai UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional). Aqilla salah satu yang akan ikut ujian besok. Saat ini Qilla kelas enam dan sudah berkali-kali ikut tryout di beberapa lembaga pendidikan yang mengadakan tryout tersebut. Rasanya untuk persiapan sudah cukup. Kasihan kalau Qilla terus disuruh belajar. Padahal, tanpa disuruh pun, Qilla dengan kesadaran sendiri akan belajar. Dia sudah tahu, resiko apa yang akan ditemuinya kalau tidak belajar mempersiapkan ujian. Terlebih lagi standar ujian sudah naik.
Sabtu, 9 Mei 2009.Kebetulan saya libur kerja. Pagi harinya bersama papanya anak-anak pijat refleksi di Taman Kota membawa Zaki dan Mamnoor. Setelah itu, langsung mampir ke rumah Atuk (kakek nenek anak2) sampai lah menjelang zuhur. Ifa tak henti-hentinya menelpon, agar kami cepat pulang. Sementara saya saya asyik membongkar album lama, mana tahu ada foto kenangan masa kecil atau foto2 saya sewaktu mondok di Pabelan. Ternyata pembongkaran tak sia-sia. Saya menemukan beberapa foto yang cukup memiliki nilai kenangan bagi saya.
Pulang ke rumah, saya dapati Qilla dan Ifa tertidur. Saya bangunkan mereka dan saya bisikkan jalan-jalan ke mal untuk makan siang sekalian menyambut Qilla ujian. Dengan membawa Qilla makan siang di luar, mudah-mudahan Qilla terhibur dan semangat untuk mengikuti ujian. Keduanya semangat dan langsung bersiap-siap. Untungnya Mamnoor sudah tidur karena kelelahan. Zaki pun langsung main dengan teman-temannya. Jadinya, kami bertiga (saya dan dua gadis saya) dengan mulus melenggang tanpa harus ngumpet dari Zaki dan Mamnoor. Maklumlah anak-anak, apalagi si bungsu, tak kan mau ditinggal.
Tujuan kami ke Mal SKA (Sentra Komersial Arengka). Jaraknya cukup dekat dari rumah. Sekitar satu kiloanlah. Sampai di mal, kami langsung menikmati dua buah lagu nasyid yang disenandungkan oleh kelompok2 nasyid. Panggungnya berada di pintu masuk ke mal. Makanya mau tak mau kami melewati festival nasyid pemuda memperebutkan hadiah dari Menegpora senilai Rp50 juta. Lumayan. Cukup menghibur. Apalagi tujuan kami cuma cuci mata, refreshing buat Aqilla yang mau ujian dan tentunya makan siang. Memasuki lagu ketiga, kami keliling mal sambil menuju kafe Exelco. Sengaja saya bawa Qilla dan Ifa ke Exelco, karena tempatnya cukup asyik dan bisa berlama-lama. Soal harga memang lumayan mahal lah. Tapi untungnya saya menggunakan kartu kredit Mandiri yang menawarkan discount 25 persen. Jadi impaslah. Bisa santai, bisa berlama-lama. Sayang banget nggak bawa laptop, karena mal SKA menyediakan internet gratis. Saya lihat juga ada beberapa pengunjung yang asyik ngenet, padahal cuma minum kopi doang. Itulah kelebihan kafe. Kita bisa berlama-lama sambil cerita tanpa harus merasa tak enak.


(Qilla Ifa sangat menikmati menu siangnya)


(giliran saya yang difoto anak2 lagi nunggu pesanan)

Cukup lama juga kami nongkrong di Exelco. Sebab selesai dari sana, kami langsung solat asar sekitar jam empat. Kemudian menikmati dua lagu nasyid dari atrium atas setelah itu langsung belanja ke Hypermart. Sampai di rumah menjelang maghrib. Memang asyik nyantai dengan anak gadis yang tak cerewet seperti ngajak anak bujang. Mungkin karena sama-sama perempuan, rasanya nyambung banget. Mudah-mudahan setelah ini Qilla fresh mengikuti ujian. Tentu, sebagai otrangtua berharap hasilnya memuaskan. Amin.

Rabu, Maret 18, 2009

Mamnoor Berulah


Jalan sehat PWI Ahad lalu kami disibukkan oleh ulah Mamnoor yang meminta macam-macam. Ini salah satu aksi protes Mamnoor saat permintaannya tak dikabulkan.

Kawan papa mencoba ikut menghibur Mamnoor dengan memberikan putrinya yang comel untuk Mamnoor, tapi Mamnoornya cuek aja.

Setelah apa yang dimintanya dapat, Mamnoor malah memberikannya ke papa mainan Spongebobnya. Padahal nagisnya sampai duduk ditanah ingin mendapatkan itu. Bukannya nggak mau ngasi, sebelumnya Mamnoor sudah dibelikan boneka teletubies seukuran dirinya. Nampak spongebob dia minta lagi. Makanya nggak langsung dikabulkan. Tapi Mamnoornya nggak mau denger, ya, akhirnya dibeli juga walau setelah itu dilepasnya lagi.

Menunggu dapat doorprize.

Ini Mamnoor yang foto dibantu papa.

Minggu, Maret 15, 2009

Jalan Sehat PWI


Para pejabat melepas grak jalan sehat.
Pemenang hadiah utama diraih pelajar SMP kelas 1.
Segarnya udara Pekanbaru pagi Ahad, 15 Maret 2009. Hujan yang turun dari subuh hingga
pukul 07.00 pagi membuat acara Jalan Sehat PWI Riau terasa lebih fresh. Walau dimulainya
agak kesiangan sekitar pukul 08.00, karena menunggu peserta yang tak bisa hadir terkurung hujan, namun di luar perkiraan, 
peserta membludak. Mungkin warga kota terimingi dengan hadiah-hadiah yang menggiurkan, yang datang dari mitra kerja wartawan. 
Mulai dari gubernur, muspida, caleg, dan perusahaan swasta. Hadiah utama sepeda motor 
dan hadiah lainnya seperti tiket PP PKU -Singapur, Batam, kulkas (3), TV (29, 21, 17, 14), dua sepeda gunung, kompor gas, kipas angin, blender beberapa buah, dispenser (6) dan ratusan hadiah hiburan 
lainnya. 
Peserta tampak bersuka cita termasuk kami sekeluarga yang tak mau ketinggalan acara
tersebut. Apalagi udara segar sekali, sangat sayang kalau dilewatkan. Lagi pula kami juga
berharap akan mendapatkan keberuntungan melalui doorprize. Kata anak-anak, mana tahu dapat sepeda lagi. Kan, lumayan. Padahal mamanya mengharapkan sepeda motor hadiah utama. Tapi sayang, harapan untuk mendapatkan hadiah nihil.  Tapi nggak apa-apa, namanya aja doorprize, dapat syukur, nggak, ya Alhamdulillah.
    Yang paling penting jasmani jadi segar. Setelah jalan sehat beberapa kilo melewati jalan 
protokol Pekanbaru, sampai di markas PWI dilanjutkan dengan Senam Riau Sehat. Setelah itu 
barulah cabut undian diselingi hiburan orgen tunggal. Detik-detik terakhir pencabutan hadiah utama, ternyata nomor kita nggak disebutkan, langsung cabut ke Taman Kota, melanjutkan jalan pagi sekalian pijat refleksi. Kebetulan jarak Kantor PWI Riau dengan Taman Kota hanya ratusan meter saja, sayang juga dilewatkan, apalagi matahari tampaknya masih enggan menampakkan diri. Sekitar satu jam kurang, kami pun mencari makan siang. Anak-anak maunya Pizza Hut, tapi akhirnya berubah pikiran ke sup Tunjang. Cuaca dingin sangat pas makan sup. Ternyata semuanya nambah, saking nikmatnya.
     Semua merasa kenyang, sampai-sampai Ifa memperlihatkan perutnya yang membuncit kekenyangan. Tawa kami pun memecah, 
karena pada merasa tambah buncit. Setelah makan bukannya langsung pulang, tapi mampir 
lagi ke perpustakaan Soeman HS. Anak-anak merasa sudah lama nggak ke sana. Ya, terpaksa menuruti keinginan anak-anak. Pokoknya Ahad kemarin, benar-benar melelahkan dan menyenangkan, tentunya.     

Sabtu, Januari 31, 2009

Bugarkan Diri di Taman Kota


Ngejus dulu ah. Capek, abis refleksi.

Pengunjung memanfaatkan batu petunjuk, untuk mengetahui bagian tubuh  mana saja yang terkandung di setiap titik syaraf kaki.

Abang Ghulamzaki dan Mamnoor kehausan usai bermain.

Mamnoor nyobain kakinya di telapak yang ada di batu. Pas, nggak ya dengan kakiku?

Batu panduan bagi pengunjung batu refleksi yang ingin tahu penyakitnya apa dan harus refleksinya di bagian kaki yang mana. Bagi yang tak tahu penyakitnya apa, bisa nyari tahunya dengan mengetahui bagian kaki yang pualing sakit ketika dijejakkan di batu refleksi.

Arena bermain anak-anak bagi orangtua yang membawa keluarga.

Beberapa hari lalu badan terasa kurang sehat. Mungkin kena hujan. Dan memang dalam sepekan ini, hujan hampir setiap hari turun. Masa pancaroba seperti ini kerap mengundang penyakit. Terlebih lagi ketika daya tahan tubuh menurun. Mungkin termasuk diriku.
     Sore, Ahad (25/1), hujan kembali membasahi kotaku. Anak-anak yang terlanjur basah (disengaja mereka) kubiarkan mereka mandi hujan. Kebetulan aku dan tiga anakku sedang di rumah atuknya. Kenangan lama ketika aku masih kanak-kanak saat hujan terbayang. Aku berlari-lari dari rumah ke rumah tetangga mencari pancuran air hujan, penuh sukacita. Hujan paling dinanti pada masa kanak2ku. Kadang, setelah puas mandi hujan, langsung nyebur ke sungai. Bermain, berlari, berenang, menyelam (kadang-kadang di bawah kapal), tak jarang juga kejedot tanggul peninggalan Jepang atau dinding kapal. Pokoknya, bikin orangtua marah kalau mengetahui hal yang mengerikan tersebut.
   Makanya, rasa-rasa tak adil ketika anak-anak tak diizinkan mandi hujan. Bukan main senangnya hati mereka ketika tahu aku izinkan. Padahal mereka hanya berlari lari menikmati sentuhan air hujan di sekitar rumah. Begitu senangnya mereka yang selalu ceria, tertawa, sesekali menjerit saling memanggil ditengah bisingnya bunyi hujan. Dalam pikiranku, aku sudah siap menerima resiko kalau mereka malamnya demam atau flu. Eh, ngga tahunya mereka sehat-sehat saja justru aku yang mulai sakit kepala, badan terasa meriang dan menggigil.
    Alhamdulillah, demamku tak berlanjut. Walau aku tak minum obat (paling anti kalau tak terpaksa sekali), pagi harinya suhu badanku biasa saja. Hanya kepalaku yang masih terasa pusing. Aku hanya bawa istirahat dan memaksakan harus makan. Hanya itu yang bisa menstabilkan daya tahan tubuhku. Kalau aku turutkan seleraku (kurang nafsu makan), bisa-bisa aku bener-bener jatuh sakit.
    Hari ketiga, (28/1/2009) aku sudah mulai bugar. Tapi rasanya masih lemes. Sorenya kuputuskan untuk refleksi di batu refleksi Taman Kota. Tak kusangka, 
pengunjungnya cukup ramai. Banyak warga kota memanfaatkan pengobatan alami ini. Banyak juga yang percaya bisa menyembuhkan semua penyakit. Bahkan ada yang terserang stroke ringan bisa sembuh setelah beberapa waktu, setiap hari, berjalan di atas batu-batu runcing yang bagi pemula rasanya luar biasa sakitnya. Seperti aku. Aku lebih banyak jalan di tempat dibandingkan jalan 
keliling. Entah karena sugesti atau memang mujarrab, aku merasa lebih fresh, berkeringat dan 
badan lebih enteng. Sementara dua bujangku Zaki dan Mamnoor, asyik sendiri di arena 
permainan anak-anak. 

Kamis, Januari 15, 2009

Pagi, di Taman Kota

Jalan pagi sekeluarga sebenarnya jarang banget. Soalnya masing-masing punya kegiatan sendiri. Paling-paling yang sering dibawa cuma Mamnoor. Nah, jalan-jalan pagi yang jelas belum mandi ini kami pusatkan ke Taman Kota, Jalan Diponegoro samping Hotel Aryaduta. Kenapa kesini? Kebetulan di sini ada jalan batu refleksinya. Bagi yang pertama, wow!!! sakit banget. Mungkin juga karena banyak penyakitnya kali. Yang jelas, batu-batunya lumayan runcing. Tapi banyak juga yang sudah terbiasa, terbukti jalannya santai banget seperti jalan di tanah aja. Kita-kita yang jarang (karena juga sudah sering dulu setiap akhir pekan di Rumbai) berjalan di atas batu refleksi itu, jalannya melebihi anak kecil yang baru belajar jalan. Sudahlah tertatih, sambil meringis lagi!





Udah capek jalan pagi di taman kota, pasti ujung-ujungnya sarapan. Anak-anak sepakat sarapannya bubur ayam Jalan Ronggowarsito.


Hmmm...Mamnoor nggak sabaran mau melahap bubur ayam yang baru diletakkan.

Capek ah..foto dulu untuk kenang-kenangan.

Di taman kota ini juga ada kolam yang cukup besar. Bagi yang nggak mau jalan di batu refleksi, bisa juga keliling kolam sampai 10.000 langkah, yang katanya bisa menyehatkan jantung.

Ini dia contohnya jalan keliling kolam. Capek bermain, mendingan jalan aja.

Aqilla dan Mamnoor yang nggak mau ketinggalan foto bareng.

Ifa yang main jungkat jungkit (melayu).

Ghulamzaki yang mengawal Mamnoor main luncuran.

Tuh, kan jalannya kelihatan banget tertatih-tatih. Aduh! sakit tau!!

Mejeng di taman bunga. 

Qilla yang masih ngatuk tapi ngotot mau ikut.

Ifa yang nggak nyadar difoto kakaknya.

Kalau yang ini merengek terus minta difoto di depan perahu Lancang Kuning.

Mamnoor langsung memburu ayunan, saat baru nyampe di taman kota.

Sabtu, Desember 27, 2008

Selamat Ultah Qilla, Mamnoor!


Bulan Desember Aqilla dan Mamnoor berulang tahun. Aqilla 11 Desember dan Mamnoor 25 Desember. 11 Desember 2008 kemarin, Ultah Qilla dirayakan secara sederhana. Hanya keluarga dan kerabat dekat yang diundang. Itupun hanya makan mie rebus bakso dan kue ultah. Untuk anak-anak, dibekali beberapa aneka kue jajanan. Tujuannya biar mereka gembira saja, mendapatkan kue tambahan.
Sebelumnya, kami ''ngerjain'' Aqilla sampai dia menangis. Setelah itu, tangisan Aqilla berganti dengan tangisan juga. Hanya saja berbeda makna. Tangisan pertama, benar-benar jengkel karena dituduh korupsi uang jajan. Tangisan kedua, tangisan bahagia, karena terharu, dengan perhatian seluruh keluarga.Apalagi setelah itu Qilla dihadiahi sebuah jam tangan yang diidam-idamkannya.
Setelah Qilla, menyusul ultah Mamnoor 25 Desember kemarin. Sayangnya tidak dirayakan. Padahal sudah disusun rencana, apa saja yang akan dibuat. Ya, makanannya, kuenya dan acaranya. Tapi semuanya buyar. Atuk Bah kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Waktu mama lebih banyak dengan Atuk Bah. Untungnya Mamnoor masih kecil. Jadi, tak berkecil hati ultahnya diabaikan.
Selamat Ultah ya, Qil...Mamnoor...kami semua sayang padamu. Semoga sehat selalu dan belajarnya tambah rajin.Khusus untuk Qilla, ingat tanggung jawabmu sebagai perempuan yang sudah baligh. Qilla sudah tahu, kan apa maksudnya.
Dan juga, mama ucapkan terimakasih pada Aqilla, karena sudah memberikan sesuatu terbaik, walau masih bertahan di peringkat empat. Mama yakin, Aqilla akan terus berusaha menjadi yang terbaik. Kata guru Qilla, sewaktu mama ambil raport (27/12/2008), nilai Qilla sebenarnya naik, begitu juga dengan kawan-kawan tiga besar. Persaingan makin ketat. Jangan patah semangat, ya.
Untuk Mamnoor, cepat besar, pintar dan jangan suka jajan. Selalulah menjadi anak yang menggemaskan dan menghibur seluruh keluarga. Sun sayang yang lamm....ma ya dari mama, papa, kakak dan abang.


Sabtu, Desember 06, 2008

Ulangtahunku


Aku sedang menyuapkan adikku Julia

Menyuapkan Ita

Menyuapkan Kak As (kakak sepupu)

Menyuapkan Cik Ida (adik ibu)

Menyuapkan Maktuo (kakak ibu)

Menyuapkan Ibuku

Menyuapkan ayahku

Keluarga besarku

Memotong kue tart

Seumur-umur, barulah HUT ku dirayakan. Oleh keluarga besarku lagi. Sama sekali tak kusangka dan tak akan pernah terbayangkan. Sudah kepala empat baru dirayakan. Bayangkanlah. Persoalannya selama ini aku dan keluarga besarku tak tahu tanggal persis kelahiranku. Kata kedua orangtuaku, mereka juga tak tahu kapan aku lahir. Mereka hanya mengira-ngira saja dan bertepatan dengan si anu dan si anu. SI anu malam dan aku siang. Bahkan kadang-kadang si anu siang aku malamnya. Lalu tanggal yang ada di ijazahku itu?
Ceritanya bermula ketika aku mau masuk SD. Maka diperkirakanlah umurku tujuh tahun saat itu. Setelah dikira-kira, ayahku menetapkan tanggal lahirku sama dengan kelahiran pejuang emansipasi wanita Indonesia, RA Kartini, 21 April . Kenyataan itu mau tak mau aku terima. Akibatnya aku tak pernah merayakan ultah, karena aku menganggap aku tak punya tanggal dan bulan kelahiran.
Sebenarnya tak sedikit yang memberi ucapan ultah padaku setiap tanggal 21 April. Aku hanya tertawa saja dan berterimakasih atas ucapan itu. Tapi sama sekali tak ada istimewanya bagiku.
Nah, kemarin, tepatnya akhir Syakban atau 31 Agustus 2008, kami sekeluarga biasa berkumpul untuk menyambut Ramadan, saling maaf-maafan dan makan siang terakhir bersama.  Usai makan siang, tiba-tiba aku ke belakang dan melihat piring bertumpuk. Biasanya adik-adikku tak pernah membiarkannya seperti itu. Aku pun turun tangan. Mulailah aku mencuci gelas. Tapi, baru beberapa saja yang aku cuci dengan khusyuknya, ibuku ke belakang dan memintaku untuk berhenti mencuci. Aku jawab, biar saja aku selesaikan. Tak lama ibuku kembali lagi. Setengah 'memaksa' dengan dalih beliau minta bantuanku di depan, maka aku sudahi mencuci dan beranjak ke depan
Baru saja beberapa langkah memasuki ruang keluarga, aku langsung disambut dengan nyanyian selamat ulang tahun. Lalu aku digiring menuju sebuah meja kecil yang diatasnya sudah 
tersedia sebuah kue tart berlapis coklat. Di atasnya juga sudah tersedia beberapa buah lilin yang sebagiannya sudah dinyalakan. Kontan saja aku diminta meniupnya sekaligus memotong kuenya.
    Dengan ekspresi wajah bahagia bercampur heran, aku ikuti saja kemauan keluarga besarku itu. Aku tiup lilinnya dan aku potong kue tart dan ku suapkan kepada orang-orang tercinta. Suapan pertama kuberikan kepada ayahku yang hanya pakai singlet dan 
menyandar di dinding karena merasa gerah habis makan siang. Berikutnya kepada ibuku, 
maktuo (kakak ibuku), Cik Ida (adik ibuku), Kak As (anak maktuo), Julia, Ita (adik2ku). Setelah itu 
semuanya menyerbu kue tanpa sempat aku suapkan. Kata mereka kelamaan menunggu giliran. He,he,he, aku tertawa saja 
melihat kebahagiaan di keluarga besarku itu tanpa ku duga sama sekali perayaan dadakan 
(atau mungkin sudah direncanakan?)  
Yang pasti aku tetap merasa heran, mengapa keluargaku merayakan ultahku tersebut.  Ternyata ...(ini yang membuatku tambah haru) ibuku berusaha mencari tahu kapan persisnya aku dilahirkan. Yang beliau ingat ada saudaranya yang sama-sama hamil dan sama-sama melahirkan dalam waktu yang sama. Hanya jamnya saja yang beda. Dari keterangan saudara kami itu, terkuaklah misteri 40 tahun lalu. Aku dilahirkan Senin dinihari 28 Agustus. Aku tanya lagi kebenarannya dengan ibuku. Soalnya ibuku juga pernah memberitahuku tanggal 26 Agustus. Dan tanggal ini pun hampir kupercayai karena ibuku pernah mengaku bertanya kepada saudara kami tersebut. Lha, sekarang kok berubah jadi tanggal 28 Agustus. Menjawab 
keraguanku itu Ibuku kembali meyakinkan dengan mengatakan saudara kami tersebut ikut pula meyakinkan 
kepada ibuku soal kelahiranku itu.
Aku harus percaya, karena usaha ibuku tersebut. Walau sudah setua ini beliau mencari tahu sekaligus menjawab keraguannya sendiri tentang kelahiranku. Aku maklum, ketika ibuku hanya bisa menjawab 
mereka lupa dan tak sempat mencatat kelahiranku. Waktu itu mereka masih muda, 
dan sesungguhnya mereka juga tak bisa menjawab mengapa mereka sampai tak mencatat 
kelahiranku. Pada akhirnya mereka hanya bisa mengatakan ''maklum orang zaman dulu''.
       Tentang diriku, aku merupakan anak kedua. Kakakku perempuan bernama Nurjannah, meninggal waktu kecil. Setelah aku, dua adik kembarku yang juga perempuan diberi nama Nurwita Nurwati juga meninggal waktu berumur sekitar dua mingguan. Keduanya terserang penyakit demam tinggi. Mungkin saja adik-adikku terlambat mendapat pertolongan medis, sehingga dalam waktu dekat mereka meninggal. Setelah itu aku dengar dari cerita ibu, beliau hamil lagi. Tapi keguguran. Jenis kelaminnya bisa diketahui, perempuan juga. Tak lama melahirkan lagi anak perempuan, Ruzimah. Saat ini ruzi menjadi guru di SMU 5. Kemudian adikku lahir lagi. Perempuan lagi. Namanya Julia. Hanya Ibu Rumah Tangga sambil mengamalkan ilmunya mengajar anak-anak mengaji di musalla dekat rumah. Selanjutnya adikku perempuan lagi. Rosmita, namanya. Sekarang jadi dosen di UIN Suska Pekanbaru. Adikku setelah ini barulah laki-laki, Abdul Hakim. Baru saja diangkat menjadi PNS di Pemkab Kampar, Riau. Dan si bungsu juga laki-laki, Hammam Zaki. Dia masih kuliah di UIN Suska sambil belajar bisnis buka konter HP.