Tampilkan postingan dengan label ekspresi anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekspresi anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 29, 2009

Di-PHK Mamnoor

Tiba-tiba saja Mamnoor berlari sambil menangis keluar rumah mendapatkanku. 

''Mama, mama..putus!'' 

Tentu saja aku heran, apanya yang putus.

''Putus apanya, Nu?'' Tanyaku

''Putus, putus!'' Jawab Mamnoor sambil terus nangis.

''Putus hubungan, ya??'' Candaku di sela tangisnya sambil tertawa. 

''Iya.'' Jawab Mamnoor. Kontan saja jawaban Mamnoor membuatku dan beberapa orang yang mendengarnya tertawa.

''Wah..payah, mama di PHK Nu, nih!'' Candaku lagi.

Mamnoor heran juga memandangiku dan beberapa orang yang mentertawakannya. Sambil terus menangis, Mamnoor mengajakku masuk rumah. Sampai di rumah Mamnoor menunjukkan sesuatu barang yang sudah pecah berkeping-keping, yang ternyata barang itu sebuah bingkai kecil, cenderamata dari walimahan tetangga.

''O..jadi ini yang Nu bilang putus?'' Tanyaku.

''Iya.....''

''Sayang....kalau begini ini namanya pecah, bukan putus,'' jelasku sambil menahan tawa.*** 

Rabu, Oktober 14, 2009

Ngelendot kemana-mana


Mungkin karena anak bungsu kali ya, si Mamnoor maunya ngelendot... terus. Nggak duduk, berbaring, berdiri pun Mamnoor maunya ngelendot. Pokoknya, asal ada mamanya, maunya deket..terus. Sikap Mamnoor ini memang sangat membahagiakan sih..tapi kalau ngga tentu waktu, kadang ngeras terganggu juga. Tapi untungnya dia ngerti. Misalnya, pas dia asyik-asyiknya ngelendot, saya pengen ke belakang. Walau kayaknya berat, Mamnoor mau melepaskan. Tapi jangan lama, pasti saya dicarinya. Kalau perlu ikut mendekam di kamar mandi. Begitu juga kalau lagi masak, tau-taunya sudah ada aja didekat saya. Kalau nggak nyadar, bisa berbahaya. Entah saya lagi megang sendok panas atau lagi goreng ikan yang minyaknya bisa nyembur. Bisa-bisa Mamnoor kecipratan. Untuk itu, saya lah yang harus hati-hati.
  Cerita tentang si bungsuku ini memang tak ada habisnya. Biarlah menjadi kenangan dia ketika besar nanti. Kalau tidur juga maunya harus sama-sama, walau saya harus pura-pura ikut tertidur. Lucunya, Mamnoor suka genggam tangan saya kalau lagi mau tidur. Takut kali, ya..ditinggalkan. Padahal kalau ngga ada saya, Mamnoor cukup enjoy menjalani hari-harinya. Sama siapa saja dia mau apalagi kalau ada papanya. Tapi..setelah ada mamanya, semua orang tak berarti. Sebagai seorang ibu, tentunya saya sangat bahagia dengan semua ini. Ada anak yang selalu dalam dekapan, semua menjadi indah. Makanya, kalau ngga ada acara penting banget di luar, saya tak akan keluar. Untungnya jam kerja saya sore hari, jadi seharian bisa bersama keluarga, terutama si bungsuku.   

Rabu, September 09, 2009

Ma..Bonus THRnya, Lho...


Tadi pagi, saat menjemput Aqilla pulang sekolah, dari jauh Qilla berlari kecil mendapatkan mamanya. Setelah mendekat, Qilla menunjukkan ibu jarinya sebagai pertanda dia memang berhasil meraih juara satu di kelasnya pada rapor bayangan.
''Tuh kan Ma, Qilla juara satu. Bonus THR-nya jangan lupa,'' kata Qilla.

Sebelumnya Qilla bakal menerima rapor bayangan Sabtu lalu. Tapi karena instruksi dari Dinas pendidikan Kota, libur Ramadannya tanggal 10 September, terpaksa penerimaan rapor ditunda sampai Rabu, 9 September 2009.

Mengetahui kakaknya Qilla bakal mendapatkan bonus, Ifa semakin rajin mengajinya. Dia ingin juga mendapatkan bonus THR dengan mengkhatamkan Quran. ''Pokoknya bonus Ifa sama dengan Kak Qilla, ya Ma???''

Lho, lho, lho...dasar anak-anak. Bisa bangkrut nih.
 

Jumat, Juli 24, 2009

Nu, Kan Udah Besar!


(Mamnoor digendong kakak sepupunya Eza. Eza ini sudah kami rawat sejak kelas tiga SD, setelah beberapa hari ayahnya meninggal. Tahun ini Eza sudah tamat SMKN 3, jurusan tatabusana)

Tumben Mamnoor kemarin nangis sejadi-jadinya ingin ikut mamanya kerja. Biasanya nggak pernah seperti ini. Kalaupun nangis, setelah dibujuk dengan es krim atau jajanan yang disukainya, Mamnoor langsung menerima alias nggak mau maksa untuk ikut. Malah kepergian mamanya ke kantor dijadikannya senjata untuk bisa minta apa saja. Dasar si bungsu! Tahu aja kalau permintaannya itu nggak bisa ditolak. He..he...

Sebelumnya saya dapat telpon dari sekretaris redaksi di kantor, kalau pimred minta rapat seperti biasa jam tiga sore. Dalam pikiran saya, pasti rapatnya penting. Soalnya sehari sebelumnya, manajemen merapatkan kondisi perusahaan. MUngkin hasil rapat itulah yang disampaikan Pimred ke kami dalam rapat tersebut. Setengah tiga sayapun siap-siap. Mamnoor sudah tahu kalau saya siap-siap pasti mau pergi.

Mamnoor: ''Mama mau kemana?''
Mama : ''Mau ke kantor sayang?''
Mamnoor: ''Mama kerja, ya''
Mama : ''Iya''.
Mamnoor: ''Nu, ikut mama kerja, ya''
Mama : ''Nggak bisa sayang. Nu kan tahu, kalau mama kerja nggak boleh ikut?''
Mamnoor: ''E..boleh kok...!''
Mama : ''Nggak boleh lah...''
Mamnoor: ''Boleh kok ma. Nu kan udah besar''

Nah lho! Jawaban Mamnoor membuat saya geli sendiri. Berarti selama ini dia nggak boleh ikut karena dikatakan masih kecil. Padahal rasanya saya nggak pernah mengatakan ketidakbolehan dia ikut itu karena masih kecil. Atau mungkin saja pernah oleh kakak2nya, tapi kasusnya sekali-sekali. So, ketika dia mengatakan dia sudah besar, konsekuensinya dia boleh ikut. Wah..susah juga nih ngasi tahunya. Untuk menenangkannya saya coba bujuk dengan jajan. E..nggak ampuh. ''Nu nggak mau!!'' katanya. Saya bujuk dengan es krim di supermarket, dia juga ngotot nggak mau. ''Nu ikut mama!!!'' keukeuhnya.
Waduh, gimana ini. Mau nggak mau saya harus pergi. Ada rapat penting lagi. Terpaksa saya harus meninggalkan Mamnoor yang nangis sejadi-jadinya, sampai-sampai tangisnya mau ikut masih terdengar dalam jarak puluhan meter.
Saya berpikir kenapa Mamnoor seperti itu. Saya nggak percaya kalau hanya gara-gara dia merasa sudah besar, lalu dia maksa harus ikut sampai nangisnya kencang banget. Saya ingat2 lagi. O...mungkin dia ingat curhat saya ke dia. Saya iseng saja bawa dia bicara seolah2 dia sudah besar di kamar berdua sambil tiduran. Ya..sambil ingin menidurkan dia, saya bertanya ke Mamnoor.
''Nu...mama mau ambil cuti nih, kemana ya kita. Kakak dan abang sekolah. Kita jalan-jalan ya berdua. Mama dan Nu akan lebih sering bersama.'' (Mamnoornya sambil ngedot jempol sok dewasa menyimak kata-kata saya sambil menyahuti sepatah dua kata. ''Ya ata Oo..'') Nah..mungkin ini nih yang membuat dia mo ikut kemana saya pergi. Tapi malamnya setelah saya pulang kerja, saya tanyakan kepada kakak sepupu yang menjaganya bagaimana sikap Mamnoor setelah saya pergi. Katanya sih cuma sebentar. Setelah saya menghilang dari pandangannya, Mamnoor malah minta bobo. Tapi sebelumnya es krim dulu, dong....



Rabu, Juli 01, 2009

Sorry, Ma....


Lagi sibuk-sibuknya di dapur mempersiapkan sarapan, nggak tahunya Mamnoor udah berada di dekat saya, tanpa saya ketahui. Pas mau berbalik, Mamnoor yang berada di belakang tertabrak dan nyaris jatuh. Mamnoor kaget. Saya langsung bilang, ''maaf ya Nu, mama nggak tahu Nu ada di belakang mama'', tak lupa sambil mendekapnya biar nggak nangis dan mengerti tabrakan itu bukan disengaja. Mungkin karena nggak sakit, Mamnoor malah senyum. Duh..senengnya.
   Trus, Mamnoor bukannya pergi. Dia juga ikut sibuk di dapur. Hampir saja dia menyentuh piring yang di atas meja dan hampir jatuh. Saya yang melihat itu kontan saja kaget dan sedikit berteriak.
''Nu...awas, piring mau jatuh,'' teriak saya.
''Sorry ma.....'' jawab Mamnoor nyantai.
Jawaban Mamnoor yang lain dari biasanya ini, membuat saya dan kakak sepupunya yang ikut membantu di dapur tertawa menahan geli. Sekaligus kita-kita juga heran, kok bisa Mamnoor jawabnya seperti itu. Kayak orang dewasa aja. Mamnoor ikutan ketawa melihat kami menertawakannya. E..alah Mamnoor Mamnoor! Baru tiga setengah tahun, kok ngemesin banget.

*****

Cerita lain lagi soal kelucuannya Mamnoor. Sore kemarin, Selasa, kami duduk-duduk nyantai di teras rumah. Semilir angin sore membuat suasana santai kami semakin menyenangkan. Tiba-tiba saja Mamnoor minta jajan.
''Mama, beli es krim yuk!'' Mintanya merajuk.
''Sebentar lagi es krim jawa (es krim yang dijual keliling buatan sendiri tanpa merek walls atau campina) datang. Kita tunggu itu, aja ya'' Bujukku.
''Nggak, di maket aja (maksudnya super market. Biasanya Mamnoor suka banget es walls spongebob),'' jawab Mamnoor.
Kakak sepupunya Eza, yang kami pelihara sejak kelas 3 SD sekarang sudah tamat SMK, mencandai Mamnoor.
''Supermarket atau minimarket,'' kata Eza.
''Maket.'' jawab Mamnoor. Mamnoor memang belum fasih ngucapin supermarket.
''Ma....ya..es krim maket,'' rengek Mamnoor pada saya sambil lendotan.
''Supermaket atau mini market???'' ulang Eza.
''terserah kakak ajalah,'' jawab Mamnoor.
Nah, jawaban terserah kakak aja ini yang membuat kami tertawa. Sungguh nggak kami sangka Mamnoor menjawab seperti itu. Bukannya nangis dicandain, malah memberi jawaban diluar dugaan. He..he...lucu abis.

Kamis, Juni 25, 2009

Ta' Gendong Kemana-mana



Lagu Mbah Surip ini benar-benar disukai Mamnoor. Baru aja keluar iklannya di TV, Mamnoor sudah menirunya dengan menyanyikan lagu itu, walau hanya bait pertamanya saja. Terus berulang-ulang. Cukup menggemaskan memang, melihat ulah Mamnoor itu. Lucu abis, pokoknya. Ditambah lagi suaranya lumayan merdu. Wah..tambah seneng deh dengerinnya.
Tapi nyatanya Mamnoor nggak puas hanya sekedar meniru lagunya saja. Mamnoor pun mempraktekkannya dengan minta digendong. Sasarannya siapa saja. Ya Papa, Mama, dan kakaknya. Tapi lebih seringnya mama, sih. Udah gitu, minta dibawa kemana-mana lagi, sambil menyanyikan lagu itu. Terpaksa deh, keliling rumah dan sesekali keluar rumah sambil menggendong Mamnoor. Keselnya, pas lagi asyik nyantai nonton atau baca koran, tiba-tiba dari belakang Mamnoor manjat dan duduk di leher. Mau nggak mau, ya, digendong!

Rabu, Mei 06, 2009

Mamnoor Mewek



Tadi pagi ada kejadian lucu dari kedua bujangku. Si abang mengganggu adiknya Mamnoor, sehingga Mamnoor menangis. Mungkin rebutan TV. Si adik maunya nonton DVD sedangkan si abang maunya Global TV. Kebetulan si abang sedang libur MDA, karena kelas IV sedang ujian. Si abang mungkin merasa aji mumpung tak sekolah pagi, karenanya dia pengen nonton. Sedangkan si adik sudah siap dengan DVD-nya. Karena si abang tak mau mengalah dan tak peduli dengan tangisan Mamnoor bahkan semakin ngeledek adiknya, si adik jadi geram. Lalu dia mendekati abang sambil emosi, dan secepat kilat menggigit sekuat-kuatnya bagian perut abang. Kontan saja abang menjerit kesakitan. Lalu abang melihat ke perutnya yang digigit, menimbulkan bekas luka dan mengeluarkan darah sedikit. Abang terus meringis menahan sakit sambil mengadukan peristiwa penggigitan oleh adiknya ke Papa Mama yang asyik nonton Tv di kamar.
Adik yang mengetahui dirinya dibicarakan, langsung ke kamar. Setelah dia mengetahui abangnya mengadu, adik tak mau ketinggalan. Dengan bahasanya sendiri (karena belum terlalu jelas) adik mengadu kalau abangnya yang nakal duluan. Sambil memperagakan kepalanya terpukul sama abang. Papa dan Mama langsung saja saling pandang sambil menahan senyum dengan pengaduan Mamnoor itu.
Mungkin Mamnoor menganggap tanggapan kami seakan tidak membelanya, dia kembali mengadu. Kali ini sambil menangis sedih, kalau dia lebih dulu diganggu si abang. Yang membuat lucu itu, ekspresi Mamnoor yang mewek, sedih banget kelihatannya terkesan menghiba. Si abang yang ikut memperhatikan adiknya tak bisa menahan tawa walau setelah itu meringis lagi. Mamnoor memang terlihat lucu, sehingga pagi itu kami dihadiahi ulah Mamnoor yang bikin geli.

Rabu, April 08, 2009

Titik Gembok

Ifa: Ma, kalau ifa ulang tahun minta diari dan foto depo, ya.
Mama: Apa, Depo? Siapa itu Depo.
Qila: itu lho Ma, bintang idola cilik di RCTI.
Mama: O....(sementara si Ifa senyum-senyum)
Ternyata anak-aak sudah punya idola tersendiri. Untung sama-sama cilik, kalau dia mengidolakan artis dewasa, bisa berabe, nih!
Mama: Kalau diari, oke ya, bisa mama belikan. Tapi foto Depo? Orangnya aja mama nggak tahu.
Qila: Banyak kok ma, yang menjualnya di sekolahan.
Mama: O....yang seperti itu ya.
Kebetulan memang ada beberapa foto gambar anak-anak yang sedang menyanyi ukuran setengah postcard, tergelak di meja. Si mama pun melihat sebentar, tapi tak ada yang namanya Depo.
Mama: Memangnya berapa harganya? Kan bisa beli sendiri.
Ifa: Cuma seribu, sih...
Keesokan harinya Ifa mendekati mama.
Ifa: Nggak jadi diari lah ma, uang aja, ya.
Mama: Lho, kok bisa berubah begitu. Memangnya Ifa mau beli apaan?
Ifa: Pokoknya ada aja. Ya, ma, uang aja titik gembok.
Wah...biasanya s Ifa kalau sudah mengakhiri sesuatu dengan titik gembok, ngga ada tawar menawar lagi. Pokoknya kalau udah titik ya titik. Biar ngga bisa dibuka titiknya digembok. He....si mama awalnya nggak tahu istilah anak-anak dengan titik gembok ini. Setelah dijelasin, baru ngerti. Ada..aja bahasa gaulnya anak-anak.

Senin, Maret 23, 2009

Nggak Boleh Bohong

'''Mama jangan bohong, masa' nggak ingat apa kata ustad kemaren?'' ujar Ifa yang membuatku tersipu malu.
''Nggak Ifa, mama nggak bohong. Maksud mama tuh, mama nggak ada duit kecil,'' jawabku mencoba menetralisir pendapat Ifa tentangku.Setelah itu aku lihatkan kepadanya lembaran uang limapuluhribuan, sebagai tanda aku memang tak punya uang recehan. 
Beberapa malam lalu, di MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) Ifa menggelar Maulid Nabi SAW. Selain itu, mauludan diramaikan dengan pembagian hadiah aneka lomba untuk anak-anak MDA. Nah, Ifa karena merasa ikut lomba cerdas cermat dan berhasil meraih juara dua, sangat berharap kalau kami orangtuanya ikut hadir. Paling tidak menyaksikan dia mengambil hadiah dari guru. Biar Ifa tak berkecil hati, kami akhirnya menghadiri acara maulud tersebut. Tentunya setelah aku kembali dari kantor, sekitar jam delapan malam.
Sebelum pembagian hadiah bagi pemenang lomba, lebih dulu diisi dengan ceramah agama maulud. Salah satu isi ceramahnya tentang kenakalan anak-anak sekarang yang berbuat semaunya, bahkan kalau perlu membohongi orangtuanya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Menurut Ustad itu salah satu penyebabnya, karena orangtua suka berbohong dengan anaknya. Contoh kecilnya soal jajan. Orangtua sering mengatakan kalau dia tak mempunyai uang ketika si anak meminta jajan. Padahal...di dalam saku ada uang. Kebohongan seperti itu juga bisa mempengaruhi prilaku anak.
Saat ustad mengatakan itu, aku ingat Ifa langsung menoleh ke belakang tempat aku duduk, sambil tersenyum. AKu tahu maksud Ifa, kalau ustad itu secara tidak langsung menyindirku. Karena aku sebagai mamanya suka mengatakan hal itu.
Kita tidak sadar kalau hal itu memang bisa mempengaruhi psikologis anak. Padahal maksud kita adalah biar anak tidak terus jajan. Sebab, baru saja dia diberi jajan, sebentar kemudian minta lagi. Jawaban yang menurut kita ampuh itu ternyata berakibat fatal. Diam-diam anak memberontak dalam hatinya. Apalagi kalau tak lama mengatakan uang kita tak ada, kita membeli sesuatu, meski itu untuk keperluan rumah tangga. Misalnya, minyak goreng atau gula.
''Katanya mama nggak ada uang. Itu kok bisa beli gula,'' protes Ifa suatu waktu.
Terpaksalah kita menjelaskan bedanya jajan dan belanja keperluan rumahtangga yang notabenenya untuk bersama.









Kamis, Juni 26, 2008

Gaya Kafoor dan Mama










Ini mama dan kaafoor sedang berfose bersama. Mama nggak sisiran, jadinya rambut mama awut-awutan. Untung aja nggak kelihatan. Kalau kelihatan udah mama hapus, ngeri deh ngeliatnya. Soalnya foto mama dan kaafoor sangat alami. Yang membuat cantiknya karena gaya Kaafoor dan mama itu. Gimana, baguskan? Apalagi ketawa kaafoor, ih, gemesin banget. Kaafoor tuh memang hobinya foto, menggaya kalau depan kamera. Eh, mama jadi ikut-ikutan. Habis..Kaafoor sih, pantang lihat kamera, bawaannya minta difoto terus. Ya udah deh, dari pada nangis, terpaksa mama kabulkan, dengan syarat mama yang megang dan jeprat jepretnya. Kalau dibagikan Kaafoor, wah..bisa pecah, hancur. Ngga bisa lagi kita foto-foto.

Rabu, Juni 11, 2008

Ghulam ompong



Eh....Ghulamzaki nampak ompongnya..Makanya Lam, jangan suka ketawa lebar-lebar. Tapi tak apa-apa lah ya, kan kenangan-kenangan, nanti juga tumbuh lagi.