Rabu, Desember 02, 2009

Semarak Pers 2009




Semarak Pers 2009 lokasinya masih sama dengan Semarak Pers 2008, di Taman Hotel Aryaduta. Sayangnya kali ini tak berhasil mendapatkan doorprize yang semakin Ok punya. Tapi tak apa-apa, tetap juga mendapat hadiah. Kalau semua tak membawa pulang hadiah, bukan even Chevron namanya. Sebab, apapun bentuknya, walau murah meriah, semua peserta tetap mendapat cendramata. Apalagi sekarang sistemnya di bagi perkelompok. jadi, menang bersama, kalah juga bersama. Kalah menang hadiah tetap ada dan lumayan berguna seperti teflon maxim dan keperluan lainnya.

Kebetulan saya bergabung dengan tim kuning bernama kelompok buaya. Saya dan tim sedang meneriakkan yel-yel yang cukup heboh. Rasanya sudah optimis kalau yel kami akan menang. Eh, sayangnya tak dinilai. Di akhir acara foto dengan teman segrup yang berhasil mendapat door prize utama sebuah laptop Acer 10 inc. ''Alhamdulillah, ini rezeki anak,'' ujar Atan sambil mengusap perut istrinya yang sedang hamil. 

Minggu, November 01, 2009

Futsal Chevron 2009

Akhirnya dengan perjuangan yang maksimal, tim putri Riau Pos hanya berhasil meraih juara 2 setelah gagal melawan saudara group sendiri RTV dengan skor 2-3. Sebagai juara 2 kami mendapat hadiah sebesar Rp4 juta. Lumayanlah, bisa menghilangkan kelelahan yang kami rasakan. Sebelum ke final tim Riau Pos juga melawan tim Pekanbaru MX, juga saudara se-grup Riau Pos. Keberhasilan kami di tim putri khususnya buat Riau Pos, membawa kebanggaan tersendiri. Karena tim putra Riau Pos yang turun dalam dua tim tak satupun lolos, hanya sampai ke perempat final. Begitu juag secara umum, kami tim putri yang mengharumkan grup, karena seluruh tim putra, baik RTV, Pekanbaru MX juga gagal. 



Sebenarnya akhir bulan ini banyak sekali acara yang bersamaan. Acara paling awal saya ketahui even Go Green dalam rangka menyelamatkan hutan Riau khususnya di wilayah PLTA Koto Panjang. Untuk acara ini sangat menarik. Selain Go Green (penghijauan), peserta Go Green juga berkemah malam minggunya sekalian acara api unggun dengan berbagai atraksi. Kebetulan saya termasuk tim panitia.
 
Even kedua barulah dapat info dari teman mbelan kalau ada Rakernas. Kalau ditanya mau apa ngga ikut acara ini, tentu saja saya mau. Kebetulan saya merindukan temen2 masa remaja saya, temen2 yang sepiring bersama, sekasur bersama dan sekamar bersama. Apalagi sudah hitungan tahun tak berjumpa. 

Tak lama datang lagi informasi tentang Semarak Pers yang ditaja perusahaan migas terbesar PT Chevron Pacific Indoensia didahului dengan pertandingan futsal antar media. Karena waktunya bentrok, kami tim putri Riau Pos masih ragu untuk mendaftar karena sebagian besar kami ikut panitia Go Green. Tapi karena mulainya Jumat, kami nekat ikut walau besoknya Sabtu harus ke PLTA. Ternyata hari pertama kami menang di babak penyisihan dan kami tertantang untuk lanjut pantang mundur. AKhirnya pilihan kami terus lanjut main futsal, sementara Go Green kami banyak dibantu TNI termasuk dapur umumnya. Biarlah tim TNI yang menangani dan dibantu kawan2 lain yang tak ikut futsal. Akhirnya pilihan kami tak sia-sia, dengan berhasilnya meraih juara 2. Acara puncak Semarak Pers digelar minggu depan. Saya ingat, dalam acara ini saya mendapatkan doorprize sebuah sepeda gunung Polygon seharga Rp1,2 juta. Mudah2an, dalam semarak Pers besok bisa membawa hadiah lagi, sebab (biasanya) Chevron banyak menyediakan hadiah2 yang lumayan ok. Semoga.




Rabu, Oktober 14, 2009

Ngelendot kemana-mana


Mungkin karena anak bungsu kali ya, si Mamnoor maunya ngelendot... terus. Nggak duduk, berbaring, berdiri pun Mamnoor maunya ngelendot. Pokoknya, asal ada mamanya, maunya deket..terus. Sikap Mamnoor ini memang sangat membahagiakan sih..tapi kalau ngga tentu waktu, kadang ngeras terganggu juga. Tapi untungnya dia ngerti. Misalnya, pas dia asyik-asyiknya ngelendot, saya pengen ke belakang. Walau kayaknya berat, Mamnoor mau melepaskan. Tapi jangan lama, pasti saya dicarinya. Kalau perlu ikut mendekam di kamar mandi. Begitu juga kalau lagi masak, tau-taunya sudah ada aja didekat saya. Kalau nggak nyadar, bisa berbahaya. Entah saya lagi megang sendok panas atau lagi goreng ikan yang minyaknya bisa nyembur. Bisa-bisa Mamnoor kecipratan. Untuk itu, saya lah yang harus hati-hati.
  Cerita tentang si bungsuku ini memang tak ada habisnya. Biarlah menjadi kenangan dia ketika besar nanti. Kalau tidur juga maunya harus sama-sama, walau saya harus pura-pura ikut tertidur. Lucunya, Mamnoor suka genggam tangan saya kalau lagi mau tidur. Takut kali, ya..ditinggalkan. Padahal kalau ngga ada saya, Mamnoor cukup enjoy menjalani hari-harinya. Sama siapa saja dia mau apalagi kalau ada papanya. Tapi..setelah ada mamanya, semua orang tak berarti. Sebagai seorang ibu, tentunya saya sangat bahagia dengan semua ini. Ada anak yang selalu dalam dekapan, semua menjadi indah. Makanya, kalau ngga ada acara penting banget di luar, saya tak akan keluar. Untungnya jam kerja saya sore hari, jadi seharian bisa bersama keluarga, terutama si bungsuku.   

Rabu, September 09, 2009

Ma..Bonus THRnya, Lho...


Tadi pagi, saat menjemput Aqilla pulang sekolah, dari jauh Qilla berlari kecil mendapatkan mamanya. Setelah mendekat, Qilla menunjukkan ibu jarinya sebagai pertanda dia memang berhasil meraih juara satu di kelasnya pada rapor bayangan.
''Tuh kan Ma, Qilla juara satu. Bonus THR-nya jangan lupa,'' kata Qilla.

Sebelumnya Qilla bakal menerima rapor bayangan Sabtu lalu. Tapi karena instruksi dari Dinas pendidikan Kota, libur Ramadannya tanggal 10 September, terpaksa penerimaan rapor ditunda sampai Rabu, 9 September 2009.

Mengetahui kakaknya Qilla bakal mendapatkan bonus, Ifa semakin rajin mengajinya. Dia ingin juga mendapatkan bonus THR dengan mengkhatamkan Quran. ''Pokoknya bonus Ifa sama dengan Kak Qilla, ya Ma???''

Lho, lho, lho...dasar anak-anak. Bisa bangkrut nih.
 

Chevron Bagi Takjilan


(Jajaran manajemen CPI Muhammad Syarkawi, Team Manager Government Relations, Djati Susetya, Manager Policy Government and Pablic Affairs Sumatera didampingi Pemred Riau Pos, Raja Isyam Azwar)

Menjelang buka puasa, Selasa, 8 September 2009, saat sedang asyik2nya kerja, kami redaksi Riau Pos kedatangan tamu istimewa dari manajemen PT CPI (Chevron Pacific Indonesia). Kedatangan mereka membawa takjilan es teler, teh hangat dan snack serta nasi kotak. Tentu saja kami yang biasanya berbuka di kantin belakang kantor merasa senang mendapatkan menu yang berbeda. Apalagi yang hadir sedikit, sementara makanan yang dibawa cukup banyak. Bisa nambah deh. Tapi yang namanya puasa, kalau udah buka, minum dikit aja rasanya kenyang banget....
Oya, dalam satu minggu saya dan kawan-kawan harian khususnya tim Metropolis hanya sekali bisa berbuka di rumah, hari Sabtu saja. Selebihnya, dari Minggu sampai Jumat, buka puasanya di kantor di kantin belakang. Kami diberi bajet hanya Rp12.500 per orang. Kalau lebih, ya bayar sendiri kelebihan tersebut.
Kalau tahun lalu, kebetulan pas Ramadan saya memegang terbitan Minggu. Setiap hari bisa buka puasa di rumah kecuali hari Sabtu. Tapi walau begitu, saya tetap bisa mempersiapkan tajilan dan makanan untuk di rumah. sebab saya berangkatnya dari rumah jam tiga sore. Kalau saya tak rapat, biasanya berangkat dari rumah jam lima sore. Karena saya memegang Metropolis, yang deadlinenya paling cepat dari koran lainnya, jadinya jam kerja saya sore (biasanya dimulai dari jam lima atau lebih) sampai jam delapan malam. Benar-benar ngejar deadline, berpacu dengan waktu. Tapi semua itu tak ada masalah. Untungnya teamwork kita bagus.
Anak-anak juga alhamdulillah, nggak ada masalah. Papanya juga. Apalagi papanya tahun ini jarang juga buka di rumah, karena hampir setiap malam safari Ramadan ke jajaran kepolisian. MUlai dari polda, Poltabes sampai ke polsek-polsek yang ada di Pekanbaru dan di luar kota.

Selasa, September 08, 2009

Ketika Dakwah Santun Menembus Rimba Papua



Kunjungan Ustad M Zaaf Fadzlan Rabbany Al Garamatan ke Redaksi Riau Pos, Senin 7 September 2009 

Suatu siang menjelang petang. Lelaki muda mengenakan sorban itu berjalan memasuki sebuah kampung pedalaman di Papua. Beberapa orang mengikutinya. Langkah mereka terhenti di perbatasan kampung tersebut. Sang kepala suku kampung itu telah mengetahui bakal kedatangan tamu dari kota itu menyambutnya dengan posisi panah siap tembak.
Wajah anggota rombongan lelaki itu menjadi tegang. Namun tidak dengan lelaki yang memimpin rombongan. Ia tetap tenang. Senyum tak lepas dari bibirnya. Ketegangan makin memuncak karena sang lelaki itu tetap tidak mau berbalik arah seperti perintah kepala suku. Kesabaran kepala suku pun habis sudah. Swiingg.., panah beracun itu pun meleset dan menancap di lengan kanan lelaki muda itu yang coba menangkis. Ia mencabutnya darah pun mengucur.
Swiing.., panah kedua pun melesak menancap lengan kirinya. Ia
terjatuh dengan darah mengalir deras dari kedua lengannya.
Sang kepala suku seakan tak percaya karena lelaki muda itu berdiri sembari mencabut anak panah di lengan kirinya. Dengan langkah pasti tanpa senjata lelaki muda melangkah mendekati sang kepala suku. Setelah dekat ia mengulurkan tangannya. ''Terimakasih bapak telah menyambut kami di perbatasan kampung. Jika memang tidak diizinkan masuk kami permisi untuk kembali.'' Sang kepala suku terpana menyaksikan sikap santun anak muda
yang bersimbah darah di lengannya itu. Tatkala si pemuda berbalik
arah dan mengajak rombonganya balik ke kota, sang kepala suku tak
kuasa menahan tangis dan memekik memanggilnya. ''Anak, kemari
anak maafkan perlakuan saya silakan masuk ke kampung kami,''
ujarnya.
Lelaki muda itu berbalik seraya berkata, ''Tidak apa-apa bapak, saya menghormati perintah bapak untuk tidak masuk kampung, kami akan tetap kembali,'' ujarnya lagi.
Seolah ingin menebus rasa bersalahnya sang kepala suku menawarkan untuk mengantarkan si anak muda itu hingga ke kota. Maka diantarlah anak muda itu hingga ke kota.
Lelaki muda itu berkunjung ke redaksi Riau Pos. Ya, dialah Al Ustadz M Zaaf Fadlan Rabbany Al Garamatan yang memaparkan pengalamannya itu. Ia hadir bersama rekannya yang mantan artis Ustad M Khoir Hary Moekti yang bintang tamu di acara Roadshow Spesial
Ramadan Dakwah Papua di Kota Pekanbaru yang ditaja oleh Badan Waqaf Alquran.




Ganasnya rimba pedalaman Papua tak membuatnya gentar. Darah asli Papua yang mengalir di dirinya membuat ia paham ganasnya medan. Ia juga paham mengapa anak negerinya tak kunjung bangkit dari kebodohan setelah 64 tahun republik ini merdeka.
''Islamlah agama yang memanusiakan manusia yang belum manusia atau dikondisikan menjadi belum manusia,'' ujarnya memulai perbincangan.

 Dari penjelajahannya ke pedalaman Papua ia menemukan betapa ada orang-orang yang mengkondisikan agar warga pribumi tetap bodoh dan terbelakang. Bahkan ada yang menyusui
anaknya dan juga menyusui babi peliharaannya. Anak-anak muda yang berpotensi maju dicecoki minuman keras dan hiburan yang memabukkan agar tak terbuka akal pikirannya oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab. Ada yang ingin anak Papua tetap bodoh agar bisa dikuras kekayaan alamnya.
Berbekal ketulusan Fadzlan dan 19 orang rekannya menembus rimba pedalam Papua. Tidur di alam terbuka dan di rumah-rumah penduduk yang disinggahi. Berbincang dengan mereka dan mengajarkan kehidupan yang lebih baik. ''Pertama-tama kami mengajar mereka membersihkan tubuh dengan mandi di sungai dengan sabun,'' ujarnya. Berbagai pengalaman unik dan lucu mereka temui. Mulai dari kepala suku yang baru mengenal shampoo dan tidak mau membi
lasnya karena khawatir kehilangan bau harumnya.
Selama ini mereka diajarkan oleh orang-orang tertentu untuk takut mandi dan melumuri tubuh dengan minyak babi agar tak digigit nyamuk. Ustad Fadzlan datang lalu mengubah mindset itu dan mengatakan justru dengan bersih tubuh menjadi lebih sehat. Ketulusan yang lahir dari lubuk hati membuat orang-orang yang semula animisme itu melihat Fadzlan sebagai orang yang ingin mengubah mereka ke arah yang lebih baik. Fadzlan dan kawan-kawan menga
jarkan mandi bersih itu dengan tidak lelah. Mereka hanya istirahat untuk salat dan makan. Hingga di kalangan rekan-rekannya Fadzlan sempat diledek sebagai ustad "sabun".
Semua itu memancing ingin tahu para kepala-kepala suku tentang salat yang ia dan rekan-rekannya kerjakan. Dialog dari hati ke hati pun mengalir apa adanya. ''Islam tidak memaksakan keyakinan pada orang lain karena sudah jelas dan terang beda antara kebenaran dengan kesesatan,'' ujarnya lagi. Dengan santun Fadzlan berdialog menjelaskan ibadah yang mereka lakukan, apa maknanya dan manfaatnya bagi kehidupan jasmani dan rohani.
''Tugas Islam mencerahkan peradaban dan mencerdaskan setiap orang yang rindu pada kebenaran,'' ujarnya.
Perlahan tapi pasti hidayah menyapa hati kaum pedalaman itu. Ratusan kepala suku masuk Islam yang diikuti oleh belasan ribuan warga sukunya. Hingga untuk mata pelajaran berwuduk yang dibimbing Fadzlan diikuti oleh ribuan orang yang memenuhi sebuah sungai
di pedalaman Papua tersebut. ''Gairah keimanan tumbuh di mana-mana,'' ujarnya.
Kini, lanjutnya, setiap anak-anak muda pedalaman Papua haus belajar Alquran. ''Yang mereka butuhkan bukan sembako dari kaum muslimin tetapi Alquran. Mereka selalu berebutan membacaAlquran,'' ujarnya.
Bahkan saat ini data dari BWA mencatat setidaknya mereka masih perlu 55.000 Alquran lagi. ''Marilah kita ikut menyumbangkan Alquran untuk mereka dan juga dana untuk dai untuk berangkat mengajar ke sana,'' ujarnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, saat ini kaum muslimin yang berminat dapat menyumbangkan dana Rp100.000 untuk satu kitab Alquran dan itu sudah termasuk dana dai yang berangkat mengajar ke Papua.
Sementara itu, Hary Mukti menambahkan bahwa jika kaum muslimin bangun dari tidurnya tidak pernah memikirkan kemaslahatan saudara-saudaranya yang kurang beruntung maka bukan dari golongan Rasulullah (Al Hadist). Hary mengatakan bahwa dakwah adalah perbuatan dan pengorbanan. Dakwah bukan gerak lidah tanpa makna tetapi gerak hati yang siap berkorban.***




Jumat, September 04, 2009

Berburu Bonus THR

Qilla: "Ma, Sabtu Qilla nerima rapor bayangan. Kalau Qilla juara tambahin, bonus THR ya''
Mama : "Kok PD abis ya. Oke deh. Tapi juara 1 aja ya..."
Qilla: "Nggaklah Ma. Tiga besar pokoknya."
Mama : "Ya deh. Tapi bonusnya beda ya. Sesuai tingkat juaranya."

Qilla setuju dengan perjanjian ini. Juara satu sekian, dua sekian dan tiga sekian. Tapi mamanya penasaran, kok bisa-bisanya si kakak ini percaya diri banget kalau dapat juara. Awalnya saat ditanya Qillanya senyum2 aja. Tapi mama terus mendesak. Pasti Qilla punya alasan kenapa bisa se-PD itu.
Akhirnya Qilla cerita juga, kalau pas ulangan, mid, dia nomor satu. Makanya dia PD abis kalau di rapor bayangan nanti bakal dapat juara, walau nggak berharap banget juara satu.

Sebelumnya, awal-awal Ramadan, semua anak-anak kecuali Mamnoor, sudah ngomongin bonus THR. Bukannya ngomongin THR lagi. Kalau THR-nya sih memang sudah wajib. Bonusnya ini lho..yang lagi diburu. Gimana caranya ya, berburu THR itu. E...nggak tahunya cara berburu THR ala anak-anak dengan rajin tadarus ke mesjid. Kalau yang ini mamanya nggak mau kasi bonus. Dengan bercanda mamanya mengatakan selain mengaji, tadarus ke mesjid itu juga mengejar makanan. Soalnya pas istirahat tadarus, biasanya banyak makanan yang datang dari kanan kiri mesjid. Lucunya, anak-anak nggak menampik alasan itu, malah saling melempar senyum.
Dalam hati, syukur anak-anak nggak mendesak. Tapi, anak-anak akan tetap diberikan bonus kalau bisa khatam Quran selama Ramadan. Tentunya di luar tadarusan di mesjid dong..alias mengaji di rumah. Bonusnya agak besar, hampir sama dengan THR. Ternyata, anak-anak setuju. Semangat 45 malah.

Karena ingin mendapatkan bonus, minggu-minggu pertama anak-anak terutama Ifa, sangat rajin mengaji. Habis subuh, zuhur, mereka rajin baca Quran. Pada hari ke lima, saat ditanya sudah sejauh mana mengajinya, Qilla baru juz 5. Berarti satu hari satu juz. Kalau Ifa sudah juz 8. Kelihatannya Ifa lebih ngebut nih. ''Di sekolah Ifa juga sempatkan ngaji, kok.'' kata Ifa. Weleh,weleh...bisa dobel nih bonusnya.

Ternyata, o ternyata, memasuki hari ke delapan sampai sekarang semangat mengajinya mulai kendor. Sudah nggak sesering awal Ramadan. Habis subuh pada langsung tidur sampai jam berangkat sekolah. Habis zuhur kadang ngaji kadang nggak. Sepertinya mereka nggak sanggup mengejar target.