Sabtu, Desember 27, 2008

Selamat Ultah Qilla, Mamnoor!


Bulan Desember Aqilla dan Mamnoor berulang tahun. Aqilla 11 Desember dan Mamnoor 25 Desember. 11 Desember 2008 kemarin, Ultah Qilla dirayakan secara sederhana. Hanya keluarga dan kerabat dekat yang diundang. Itupun hanya makan mie rebus bakso dan kue ultah. Untuk anak-anak, dibekali beberapa aneka kue jajanan. Tujuannya biar mereka gembira saja, mendapatkan kue tambahan.
Sebelumnya, kami ''ngerjain'' Aqilla sampai dia menangis. Setelah itu, tangisan Aqilla berganti dengan tangisan juga. Hanya saja berbeda makna. Tangisan pertama, benar-benar jengkel karena dituduh korupsi uang jajan. Tangisan kedua, tangisan bahagia, karena terharu, dengan perhatian seluruh keluarga.Apalagi setelah itu Qilla dihadiahi sebuah jam tangan yang diidam-idamkannya.
Setelah Qilla, menyusul ultah Mamnoor 25 Desember kemarin. Sayangnya tidak dirayakan. Padahal sudah disusun rencana, apa saja yang akan dibuat. Ya, makanannya, kuenya dan acaranya. Tapi semuanya buyar. Atuk Bah kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Waktu mama lebih banyak dengan Atuk Bah. Untungnya Mamnoor masih kecil. Jadi, tak berkecil hati ultahnya diabaikan.
Selamat Ultah ya, Qil...Mamnoor...kami semua sayang padamu. Semoga sehat selalu dan belajarnya tambah rajin.Khusus untuk Qilla, ingat tanggung jawabmu sebagai perempuan yang sudah baligh. Qilla sudah tahu, kan apa maksudnya.
Dan juga, mama ucapkan terimakasih pada Aqilla, karena sudah memberikan sesuatu terbaik, walau masih bertahan di peringkat empat. Mama yakin, Aqilla akan terus berusaha menjadi yang terbaik. Kata guru Qilla, sewaktu mama ambil raport (27/12/2008), nilai Qilla sebenarnya naik, begitu juga dengan kawan-kawan tiga besar. Persaingan makin ketat. Jangan patah semangat, ya.
Untuk Mamnoor, cepat besar, pintar dan jangan suka jajan. Selalulah menjadi anak yang menggemaskan dan menghibur seluruh keluarga. Sun sayang yang lamm....ma ya dari mama, papa, kakak dan abang.


Pustaka Soeman HS


Papa sedang mengamati Qilla, Ifa dan Zaki membaca buku

Ifa dan Zaki serius membaca buku cerita

Qilla dan Ifa juga serius baca buku

Hanya Mamnoor yang tak ikut ke Perpustakaan. Saat kami pergi, Mamnoor sedang tidur. Kasihan kalau dibangunkan.

Inilah Gedung Pustaka Soeman HS yang terletak bersebelahan dengan Kantor Gubernur Riau.

Anak-anak begitu girang ketika aku ajak mereka ke Pustaka Soeman HS. Betapa tidak. Mereka sudah berkali-kali minta ke sana, tapi waktunya saja belum pas. Nah, Sabtu 27 Desember 2008, usai mengambil raport Qilla, barulah kami sempat mengunjungi pustaka. Saat itu juga Qilla dan Ifa mengurus kartu anggota. Mereka cukup menyediakan foto saja sebanyak tiga lembar, selanjutnya diurus oleh petugas pustaka yang kebetulan adik sepupuku. Bisa dibilang urusan semuanya lancar dan cepat. Segala sesuatunya diselesaikan oleh adik sepupuku itu, bernama Rini.
Dengan adanya kartu anggota, anak-anak bisa meminjam dua buah buku (maksimal) per kartu anggota. Karena kartunya ada dua, atas nama Qilla dan Ifa, jadinya bisa pinjam empat buah buku. Kebetulan anakku empat orang, masing-masing memilih bukunya sendiri. Sedangkan untuk Mamnoor dipilih kakaknya buku belajar membaca abcd. Walau Mamnoor sudah mengetahui semua huruf abjad dari a sampai z, tapi Mamnoor masih belum tahu, kalau a itu apel, b buku, c ceri dan seterusnya. Selama ini Mamnoor hanya bisa membaca kata-kata mama, papa, abang, kakak, adik, bola, boneka, nenek dan beberapa kata yang ada di lingkungan rumah.




Sabtu, Desember 20, 2008

Asyik, Dapat Door Prize Polygon


Gembira, usai menerima hadiah sepeda gunung.

Salah satu lomba pukul bantal di Semarak Pers 2008. Pemenang utamanya mendapatkan satu unit kulkas.

Mamnoor tak peduli dengan kehebohan sekelilingnya. Yang penting bisa mandi gratis sepuas-puasnya di kolam renang Hotel Aryaduta.

Mamnoor sedang diawasi papa biar mainnya tak jauh-jauh.

Mamnoor siap-siap megang handuk untuk mandi, tapi difoto dulu sama mama.

Tiga ABG (Amak Berlagak Gadis) Riau Pos Grup, Nurizah Johan, Deslina dan Larashati, Pemred Riau televisi.

Foto menjelang lomba tusuk balon. Larashati (bertopi) salah satu pemenangnya.

Sempat-sempatnya minta difoto saat menyaksikan perlombaan.

Mamnoor digendong papa.


Di setiap penghujung tahun, sebuah perusahaan minyak terbesar di Riau dan Indonesia, Chevron Pacific Indonesia (CPI) --dulunya Caltex--- mengadakan acara Semarak Pers bagi wartawan seluruh media cetak dan elektronik yang berdomisili di Pekanbaru. Acara ini disambut hangat insan pers setiap tahunnya. Selain mengikat silaturahmi dengan CPI sebagai mitra kerja wartawan, Semarak Pers ini banjir hadiah. CPI selalu mengerti kebutuhan jurnalis dengan menyediakan hadiah-hadiah yang menarik dan sangat diperlukan.
Semarak Pers 2008 yang berlangsung Sabtu, 20 Desember 2008, digelar di Taman Hotel Aryaduta. Tahun-tahun sebelumnya, Semarak Pers selalu digelar di lapangan terbuka, seperti bumi perkemahan Chevron di Rumbai dan Taman Rekreasi Alam Mayang. Dua tempat yang disebutkan ini, cukup luas dan nyaman. Ternyata di Hotel Aryaduta lebih menarik. Selain rumput hijaunya cukup representatif untuk acara tersebut, juga didukung kolam renang. Karena itu pula, Semarak Pers kemaren, ditambah lomba pukul bantal di atas kolam. Lomba ini belum pernah diadakan, karena, memang tempat yang dipilih tak pernah ada kolamnya.
Suasananya sangat meriah. Setiap tahun ada saja hal yang baru disediakan CPI. Tiga tahun terakhir ini acara diserahkan ke EO (even Organizer) yang terdiri dari anak-anak muda. Kontan saja, anak-anak ini membuat acara lebih hidup dan bergairah.
Selain pukul bantal di atas kolam renang, yang juara pertamanya mendapatkan hadiah sebuah kulkas (wow!), lomba lainnya tusuk balon dengan mata tertutup, merangkak di atas telur yang dibatasi jaring plastik, menembus jaring laba-laba tanpa menyentuhnya, lomba domino, lomba joget, dan lomba mencari teman dari 10 menjadi empat. Ke semua pemenang lomba mendapatkan hadiah yang menarik, lebih dari satu hadiah. Belum lagi door prize nya yang juga heboh, antara lain Laptop dua unit, TV, kulkas, kompor gas plus tabung, sepeda gunung merk Polygon dua unit, dan hadiah hiburan lainnya, seperti USB, kaos dispenser dan lainnya.
Kebetulan, saya mendapat hadiah sepeda gunung. Harganya masih tercantum di sepedanya sebesar Rp1.120.000. Seneng banget. SOalnya anak-anak sangat memerlukannya. Mereka selalu mendesak minta dibelikan sepeda lagi. Sebab, sepeda lama mereka sudah kecil karena badan mereka terus membesar. Kadang-kadang sering juga melihat-lihat sepeda, tapi harganya rata-rata di atas satu juta merk Polygon. Itu pun mungkin termasuk yang paling murah bagi Polygon. Merek lainnya memang ada di bawah satu juta, tapi hati ini cenderung polygon juga. Soalnya memang kuat. Terbukti punya anak-anak sejak kecil sampai sekarang masih bisa dimainkan, termasuk Aqilla. Walau sebenarnya, menurut usia dan ukuran badannya sudah tak pantas lagi menungganginya. Sesekali Qilla tetap saja keliling lingkungan dengan sepeda mininya itu.
Bayangkan saja. Betapa bahagianya anak-anak, mamanya mendapatkan door prize sepeda yang diidam-idamkan. Langsung mereka main sepeda baru secara bergantian, karena ingin mencoba yang baru. Sepeda lama untuk sementara diabaikan.Kebahagiaan mereka juga saya rasakan, apalagi nggak jadi mengeluarkan uang jutaan hanya untuk sepeda.***

Lokakarya Redaktur


Foto bersama dengan peserta dan pembawa makalah. Aku (jilbab hitam) berada di tengah-tengah sebelah Kepala Biro Antara Riau, Evi R (baju garis2 jilbab putih)



Lokakarya Bahasa Indonesia, Bahasa Media

Kamis, 18 Desember 2008 kemarin, aku mengikuti lokakarya Bahasa Indonesia, Bahasa Media. Lokakarya ini ditaja oleh LKBN Antara Biro Riau, yang dipimpin seorang wanita, temenku, Evi Ratnawati Syamsir. Tema ini diangkat karena bahasa yang digunakan media akhir-akhir ini sudah merusak tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Banyak media salah kaprah menggunakan istilah, singkatan, dan penggunaan lainnya. Kalau dibiarkan, hal ini bisa berbahaya. Bisa-bisa masyarakat mempercayai kalau itulah yang benar. Padahal kenyataannya, media juga banyak salah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.
Lokakarya ini diharapkan agar media terutama para jurnalis dan penulis, kembali menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah bahasa, seperti yang telah dikeluarkan Pusat Bahasa.
Sebanyak 30 lebih redaktur dari media cetak dan media elektronik mengikuti lokakarya ini yang dilaksanakan di aula Pustaka H Soeman HS. Pustaka ini baru saja selesai dengan arsitektur yang cukup megah. Katanya, pustaka ini yang terbesar di Asia. AKu juga mengakui, keindahan pustaka ini. Memang bagus dan megah. Buku-bukunya juga komplit. Dan aku menjadikan pustaka ini sebagai salah satu wisata pendidikan bagi anak-anakku. Sebab, begitu banyak buku anak-anak yang bisa dibaca. Apalagi ruangan pustaka anak tersendiri, di lantai dasar. Tempatnya aman dan nyaman.


Senin, Desember 15, 2008

Asyik, Futsal Lagi


Bahagianya setelah bagi-bagi hasil usaha.

Beginilah aksi awak redaksi usai penerimaan hadiah futsal.

Para pemenang futsal yang diwakili perempuan di masing-masing grup.

Pimpinan Umum Riau Pos H Makmur yang juga satu tim, membagikan uang hadiah untuk dibagi-bagi ke seluruh tim Pro Otonomi, sebagai juara ketiga.

Ini lho hadiahnya. Empat Juta Rupiah, bo!

Disaksikan Pemred Riau Pos Zulmansyah, Wapemred Syamsul Bahri Samin, yang juga ikut gembira melihat keceriaan awak redaksi Riau Pos.

Teman-teman redaksi kembali bakal mengadakan tanding futsal. Kalau tahun 2008, pertandingan khusus untuk awak redaksi. Tapi rencananya untuk tahun 2009, redaksi mengembangkan sayapnya dengan mengundang tim pemasaran dan tim iklan. Masing-masing hanya diundang satu grup dengan jumlah personilnya 10 orang.
Menurut Pemimpin Redaksi Riau Pos, Zulmansyah, pertandingan futsal ini ternyata terbukti mengikat silaturahmi antara redaksi. Bukan itu saja, pertandingan semakin menarik dengan hadiah-hadiah yang diberikan.
Kalau tahun 2008 lalu, nama-nama tim diambil dari rubrik koran Riau Pos. Misalnya, Pro Otonomi (grupku), Metropolis, Liputan Khusus, Nasional, Selebritis dan lainnya.
Untuk 2009 ini, belum tahu pasti apakah namanya masih mengambil dari rubrik koran. Saat aku nulis ini, masih pembukaan pendaftran bagi siapa yang berminat. SOalnya, Futsal 2008, ada teman-teman yang dimasukkan dalam tim, tidak aktif. Makanya, untuk Futsal 2009, yang mendaftar harus konsekuen dengan tekadnya. Kalau ternyata memang sanggup hadir dalam pertandingan tanpa halangan apapun, silahkan mendaftar. Tapi, kalau rasa-rasanya memang tak minat atau tak dapat hadir secara kontinu, ya, mendingan nggak usah daftar. Hal itu akan merepotkan tim saja.
Untuk Futsal 2008, timku Prootonomi berhasil meraih juara tiga. Hadiahnya sebesar Rp4000.000. Lumayan dibagi-bagi sesama tim yang jumlahnya 12 orang.
Mudah-mudahan saja Futsal 2009 aku bergabung dengan tim yang hebat. Biar bisa mendapat hadiah yang hebat pula. Rp10 jeti, bo!!!!Lumayan, kan?

Up Grading Redaktur



Sabtu 13 Desember 2008, kami awak redaksi, mulai dari reporter, redaktur, koordinator liputan, redpael dan asisten, mengikuti up grading jurnalistik di Hotel Furaya, Pekanbaru.
Up grading tersebut selain menyambut akhir tahun, juga menyegarkan kembali awak redaksi Riau Pos, yang selama ini hanya berkutat di kantor. Selain itu, juga untuk mengulang ilmu yang mungkin ada yang terlupakan, sekaligus menambah wawasan baru tentang kondisi riil perusahaan, yang intinya, pada tahun 2009 redaksi harus memiliki semangat baru untuk berkarya, berproduksi, sehingga Riau Pos selalu dinanti penggemarnya setianya.

Sabtu, Desember 13, 2008

Ojek Perahu (Sampan)



Tak mau ketinggalan momen saat mewawancarai tukang ojek perahu. Usai wawancara di atas perahu, aku minta difoto juga.
Farida tersenyum saat kameraku membidiknya yang sedang mengayuh perahu (di bawah).


Untuk kepentingan sebuah organisasi keagamaan BKMT yang ingin menerbitkan buku Opini 100 Perempuan Riau, yang akan diluncurkan Januari 2009 mendatang, aku diminta mewawancarai perempuan-perempuan marjinal yang harus berjuang hidup agar tetap survive, seperti tukang ojek perahu, penyapu jalan, pebersih gorong-gorong kota, loper koran, tukang parkir, Pembantu Rumah Tangga, Tukang pijat, pemulung dan sebagainya. Untuk mewawancarai mereka-mereka ini tidak sedikit energi yang ku keluarkan.
Misalnya ketika meminta waktu seorang pengojek perahu.Farida, ibu lima orang anak ini, sehari-harinya bekerja sebagai tukang ojek perahu di sungai Siak. Walau sudah ada jembatan, namun warga yang tak memiliki kendaraan lebih memilih naik perahu ke seberang, ketimbang melalui jembatan. Lebih cepat memang. Apalagi kondisi jembatan sudah padat oleh kendaraan yang berseliweran, walau jalan khusus untuk pejalan kaki juga disediakan.
Waktu aku ingin bertemu dengannya, Farida sedang berada di seberang. Untuk memanggilnya ke seberang tempatku, harus ada yang membantu. Untung temannya mau meneriaki sambil melambaikan tangan meminta Farida segera datang ke tempatku. Mungkin berharap ada penumpang, Farida segera ke seberang tempatku. Setelah mengetahui aku mau mewawancarainya, Farida menjawab ketus, terkesan putus asa.
''Wawancara-wawancara terus, tapi tak pernah mendapat bantuan,'' kata Farida.
Jawaban itu bukannya membuat nyaliku ciut, tapi justru aku penasaran, mengapa dia sampai berbicara seperti itu. Tentu ada alasan kekecewaannya itu dilimpahkan kepadaku. Lalu aku naik perahunya dan membuka pembicaraan yang sekiranya bisa membuat farida tidak terganggu. ALhamdulillah, walau awal sambutannya kurang menyenangkan, ternyata farida cukup ramah. Farida kecewa karena sudah banyak dia diliput media, baik cetak maupun elektronik, tetapi tak ada yang peduli akan nasibnya. Suaminya hanya sebagai buruh bangunan yang kadang dapat job kadang tidak. Makan sehari-hari sangat tergantung dengan hasil ojek sampan. Sementara mereka memiliki lima orang anak. Diantara kelima anaknya itu, hanya satu saja yang sekolah kelas dua SD, yaitu anak yang keempat. Si bungsu masih berumur dua tahun. Anak ke satu, kedua dan ketiga, terpaksa tak sekolah. Bahkan anak ketiganya terpaksa putus sekolah karena tak ada biaya. Padahal baru beberapa bulan mengenyam pendidikan di SMP swasta.
Makanya Farida berharap, ada yang membantu pendidikan anak-anaknya. Kalau untuk makan saja, dirinya mengaku sanggup. Cerita Farida ini memang membuatku miris, terenyuh. Hari gini masih banyak anak usia sekolah yang tak sekolah karena biaya? farida aku sarankan untuk mengadu ke wakil rakyat. Biasanya cukup ampuh. Ada saja nanti orang mampu yang mau menyekolahkan anaknya. Tapi farida tak mau. AKu pun bertekad akan menyampaikan nasib Farida ini ke organisasi BKMT. Mudah-mudahan BKMT mau menjadi orangtua asuh bagi anak-anak farida.