Selasa, April 28, 2009

Kandas di Tengah Laut


(Nasori termenung menunggu air laut pasang. Kapan ya bisa terbebas dari tengah laut ini?)
Jarak Rupat dengan Malaka yang cukup dekat, membuat kondisi sosialnya mempunyai kemiripan. Bahkan di Rupat juga berlaku uang ringgit. Barang-barang yang beredar lebih banyak keluaran Malaysia. Termasuk sepeda motor. Warga Rupat lebih suka membeli dari Malaysia. Harganya sangat murah. Contoh, sepeda motor merek Honda atau Yamaha, yang kalau di Dumai (Indonesia) harganya belasan juta rupiah, di Rupat bisa dibeli dengan harga dua juta sampai empat jutaan. Makanya, kalau ke Rupat jangan heran banyak warga yang memiliki sepedamotor tanpa nomor polisi.
Jalan-jalan yang ada di Rupat juga lebih banyak jalan setapak yang hanya disemenisasi.
Maklumlah, saat aku ke sana belum ada mobil. Katanya cuma ada satu, mobil dinas milik Pak
Camat. Sayangnya, jalan ini cepat rusak oleh rendaman air laut saat sedang pasang. Soalnya
kalau air laut pasang, ada beberapa jalan yang terendam, kadang sampai lutut. Dan inilah
salah satu infrastruktur yang harus digesa pembangunannya oleh pemda setempat, jika Rupat
ingin dikembangkan menjadi tujuan wisata baru di Riau.
Kalau saya mendengar perkembangannya sekarang, kemajuan Rupat sudah lumayan. SUdah
banyak dana APBD yang diprioritaskan untuk pembangunan di Rupat. Mungkin saja motor-motor yang ada di sana sudah ada platnya. Itu artinya masyarakat harus membayar pajak
kendaraannya. Rasanya, ingin sekali aku ke Rupat lagi. Seperti apa ya perkembangannya
sekarang?


(Teman-teman pria mencoba mendorong speedboat yang kandas, tetapi tak berhasil. Kami harus menunggu air laut pasang dulu)

Setelah puas berjalan di Rupat kami pun kembali ke Bengkalis. Tapi kami tak mau langsung
menuju Bengkalis. Kami ingin memutar ke kiri berlawan arah ke Bengkalis yang mengarah ke
kanan. kami ingin melewati selat morong yang membelah dua Pulau Rupat itu. Jarak tempuhnya
memang agak lama. Yang namanya jalan-jalan dan ingin tahu, waktu tidak kami persoalkan.
Pemandangannya cukup asyik. Dari kejauahan tampak sebuah pulau yang timbul tenggelam.

Kalau tak salah itu Pulau Babi. Kadang dia muncul dan kadang dia tenggelam, hanya sedikit
saja yang terlihat. Kami teus melaju. Tapi tiba-tiba speed kami tak bisa melaju dan akhirnya
berhenti di tengah laut. Aku yang tak biasa mengalami seperti itu rada khawatir juga.

Ternyata kami kandas menabrak beting (kawasan laut yang tak dalam. Tanahnya agak tinggi).
Karena tak bisa menggerakkan speed, kami terpaksa berhenti dan menunggu air laut pasang
lagi.Sementara itu temen-temen cowok keluar dari speed sekalian ingin tahu berapa benar
kedalaman air sehingga kami bisa tersangkut. Pantas saja kandas, kedalaman air cuma selutut
orang dewasa. Cukup lama juga kami terdampar di tengah laut tersebut. Lagian siapa yang
menyangka kami terkena beting itu. Sama sekali tak kelihatan, sebab keberadaan kami jauh
dari pantai.
Setelah air laut sudah mulai pasang, temen-temen mencoba mendorong speedboat ke tempat
yang lebih dalam. Setelah berhasil dan mesin bisa dinyalakan, kami pun melanjutkan
perjalanan menuju selat morong. Di selat ini sedang dibangun sebuah jembatan penghubung
(mungkin sekarang sudah selesai dan sudah pula dimanfaatkann warga setempat). Selama ini
masyarakat menyeberang menggunakan rakit besar atau feri.
Keluar dari selat morong barulah ke laut lepas meninggalkan Pulau Rupat menuju
Bengkalis. Kami pun bermalam lagi di Bengkalis. Keesokan harinya, barulah kembali ke
Pekanbaru dengan Alita Ekspres, yang cukup kencang. Sekitar tiga jam, tiba di Pelabuhan
Sungai Duku Pekanbaru.

Sambil menunggu air pasang, beberapa teman bermandi-ria dulu.


Minggu, April 26, 2009

Malam Hari di Pulau Rupat



Malam di Pulau Rupat gelap gulita. PLN memang belum masuk di pulau terluar Indonesia ini. Penerangan hanya dengan petromak dan beberapa lampu colok atau pelita ditambah dengan lilin.Hanya beberapa rumah saja yang terang oleh penerangan genset. Itu pun hanya rumah orang-orang yang berpunya.
Untunglah cuaca cukup cerah walau cahaya rembulan timbul tenggelam. Hanya bintang yang setia menghiasi angkasa. Kami semua duduk di depan penginapan. Kami asyik dengan kesibukan sendiri. Aku dan Evi (sekarang kepala biro ANtara Pekanbaru) duduk agak menjauh dari teman-teman pria yang asyik ngobrol. Kami mengambil posisi di bawah pohon cemara, persis di tepi pantai. Sayangnya, malam itu pantai berpasir putih itu sudah tak terlihat. Ditutupi air laut yang sedang pasang. Namun justru itu aku menemukan sensasi lain, di mana debur ombak yang memecah pantai sangat dekat dan terkadang percikan airnya menyentuh kami. Benar-benar eksotis, sangat menyenangkan dan tentu terasa tenang di hati.
Pikiranku sempat liar ke mana-mana. Teringat masa lalu. Debur ombak yang memecah pantai seakan membawa pikiranku yang menerawang itu. Kadang dibawanya jauh ke tengah laut, lalu kembali dihempaskannya ke pantai.
Yang lebih memikat berada malam hari di Rupat, nun di Selat Malaka (aku tak tahu persis apakah masuk perairan Malaysia atau Indonesia), beberapa kapal pesiar yang terang benderang, di mana setiap ruangnya dipenuhi cahaya lampu berhenti di tengah laut. Entah apa aktivitas mereka di sana. Apakah mereka sedang clubbing? Atau berjudi? Entahlah. Yang pasti keberadaan beberapa kapal pesiar itu sangat kami nikmati.
Selain itu, jauh di sana, tepatnya di langit Malaysia, cahaya lampu (mungkin) bias dari gedung gedung yang menjulang, terimbas di angkasa. Sehingga jelas terlihat dari tempat duduk kami. Ada rasa miris di hati. Betapa berbedanya, antara negeri seberang dengan Pulau Rupat. Usahkan melihat langitnya yang terang, cahaya dari rumah penduduknya entah terlihat entah tidak. AKu bayangkan kalau aku saat itu berada di Malaka atau di kapal pesiar itu, pasti aku hanya melihat kegelapan yang kelam.

Rabu, April 22, 2009

Meninjau Pulau Terluar Rupat Utara


Dari kejauhan nampak pantai pasir putih Rupat Utara. Dari Speedboat kami terpaksa naik perahu untuk mencapai pantai, sebab speedboat tak bisa berlabuh karena tak air laut sedang surut dan pelabuhan tak ada.

Teman-teman rombongan penulis asal Bengkalis-Siak. Oji (Kepala BUMD Pelalawan), Kasdi (Pimpinan Perusahaan Koran Riau), Erianto Hadi (Wapimum Dumai Pos), Edi Yatim (sekarang anggota DPRD Riau dari Demokrat, sebelumnya Pimum Koran Riau). Dua di samping pakai topi wartawan di Bengkalis.

Berpose di bebatuan paling ujung Pulau Rupat berdekatan dengan tower yang memantau aktivitas di Selat Malaka.

Pulau Rupat terbagi dua bagian, Rupat Selatan dan Rupat Utara. Kedua pulau ini dibelah oleh selat morong. Rupat Selatan lebih dekat dengan Dumai, ibukota kecamatannya Batu Panjang. Di Rupat Selatan pantainya berlumpur dan banyak ditumbuhi pohon bakau. Sementara di Rupat Utara bahkan sepanjang pulaunya yang berhadapan langsung dengan selat Malaka berupa pasir putih. Jika air laut surut, pantai putih ini terbentang indah. Karenanya pantai Rupat Utara ini dinilai sangat potensial untuk pengembangan wisata. Dan potensi itu saat ini terus digali dengan mengundang berbagai investor.
Saya bersama kawan-kawan yang mengatasnamakan penulis dari Bengkalis-Siak, suatu waktu tahun 2004 lalu, tertarik mengunjungi pulau terluar Indonesia yang sering menjadi pembicaraan pemerintah setempat ini. Seperti apa betul potensi yang dimiliki Rupat Utara terutama pantainya yang cukup indah itu.
Dari Pekanbaru kami berangkat dulu ke Bengkalis dengan kapal Mulia Kencana. Naik kapal ini jarak tempuh Pekanbaru Bengkalis bisa empat jam lebih. Sementara naik speedboat lebih kurang bisa tiga jam. Itu dikarenakan, kapal ini harus berjalan lambat ketika melewati perkampungan penduduk. Tujuannya agar abrasi tidak semakin parah. Akibat dari abrasi ini sudah puluhan bahkan ratusan rumah penduduk tenggelam. Untuk memperlambat (sebab abrasi tetap saja terjadi selama tidak dibuat turap sebagai penahan) abrasi, setiap kapal berukuran besar dilarang menggunakan kecepatan tinggi.
Pernah sebuah kapal dari luar negeri dikejar warga setempat karena tidak mengindahkan keinginan penduduk. Mereka dihadang dan dilempari warga. Tentunya peristiwa ini tidak mau dialami oleh kapal-kapal lainnya.
Di Bengkalis, sudah menunggu beberapa orang teman jurnalis yang bertugas di sana. Kami pun menginap semalam di Bengkalis.Esok paginya, kami pun siap-siap menuju Pulau Rupat dengan mencatar Speedboat Terubuk Express. Perjalanan menuju Rupat dari Bengkalis ini juga sangat indah. Beberapa pulau kecil di perairan Riau kami lewati satu per satu, kemudian menempuh selat Malaka. Di perjalanan kami juga sempat melihat beberapa ekor ikan yang berlompatan. Kalau saja kami memancing saat itu, pastilah banyak dapat ikan.
Tak lama, dari kejauhan tampaklah Pulau Rupat bagian Utara dengan pantainya yang cukup luas. Rasanya panjang sekali pantai itu dan sepanjang itu pula pantai berpasir putih itu seolah mengikuti kami. Tepat di Desa Teluk Rhu speedboat kami berhenti di tengah laut. Awalnya saya heran, kenapa berhenti di tengah laut tersebut sementara pantai masih jauh. Ternyata speedboat tak bisa berlabuh karena tak ada pelabuhan, dan air laut sedang surut. Sedangkan pelabuhan yang ada di Tanjung Medang, letaknya paling ujung di Pulau Rupat. Jalan satu-satunya menuju pantai, kami dijemput sebuah perahu. Kira-kira air laut selutut, barulah kami turun menuju penginapan yang letaknya di bibir pantai. Pantes saja kami berhenti di tengah laut yang tak jauh dari penginapan.






Minggu, April 19, 2009

Pertemuan di Marcopolo Hotel


Peserta seminar yang dihadiri utusan dari 22 negara di dunia termasuk dari Indonesia yang diwakili Riau, Medan, dan Jakarta.

Rombongan dari Pekanbaru Indra B Syukur mewakili perhotelan dan Riau Torism Board, Syamsul BS Riau Pos, Syamsul patria travel, Ibnu Masud Muhibbah travel, Lucy Diamanda Riau Mandiri, Ikhawan Aurora Travel dan saya sendiri saat itu wakil dari Harian Pekanbaru Pos.

Katanya di komplek inilah artis legendaris Malaysia P Ramlee berdiam dulunya.

Berfoto di komplek Kek Lok Si Temple -klenteng terbesar di Penang-

Pemandangan Kota Penang dilihat dari Kek Lok Si

(Salah satu patung Dewi Quan ini berdiri di puncak bukit.)


Sarapan di Mutiara Hotel diisi beragam makanan. Maklum, menyediakan menu untuk tamu dari seluruh dunia bukannya mudah. Tapi ku lihat semua menikmatinya. Saat itu aku belum tahu siapa saja (negara mana) yang diundang pihak kerajaan. yang ku lihat memang nano-nano, wajah arab, oriental dan barat.
Setelah pertemuan di Marcopolo (usai sarapan) prosesi penyambutan tamu dan perkenalan plus suguhan budaya, barulah aku tahu kalau negara yang diundang sekitar 22 negara di dunia. Soalnya tamu per negara dipanggil. Ketika giliran Indonesia, ternyata ada tiga kelompok yang berdiri di tempat yang terpencar. Pas, istirahat, kami pun sesama utusan Indonesia saling berkenalan. Pantes saka aku lihat wajah nano-nano. Semuanya terdiri dari dua unsur, jurnalis dan travel. Jumlahnya ratusan orang. Kalikan saja kalau setiap negara diundang minimal sepuluh. Indonesia saja 20 orang lebih.
Seminar dan penampilan budaya Malaysia yang beragam etnis itu (malayu, cina, india) cukup memuaskan. Acara pertemuan ini hanya sampai makan siang. Sorenya hingga malam pembukaan Mega Sale Malaysia di Komplek Tun Abdul Razak sebuah pusat perbelanjaan di Penang. Sebelum kembli ke Hotel, kami berjalan-jalan dulu mengitari kota Penang. Antara lain, mengunjungi berbagai macam temple (klenteng) yang banyak tersebar di Kota Penang. Termasuk Kek Lok Si Temple yang letaknya di perbukitan. Di atas bukit juga terdapat patung Dewi Quan in.


Jumat, April 17, 2009

Malaka-Pulau Pinang


(Jembatan Penang yang menghubungkan daratan Malaysia dengan Pulau Pinang)

Acara inti Mega Sale 2004 Malaysia dipusatkan di Pulang Pinang (Penang). Sebuah pulau di Malaysia bagian Utara yang sudah terhubung oleh Jembatan yang cukup panjang. Sayangnya aku lupa berapa panjangnya. Katanya jembatan ini yang terpanjang (di dunia?). Sebanyak 22 negara di dunia yang diundang secara percuma oleh kerajaan, termasuk Indonesia. Perwakilan Indonesia hanya tiga daerah saja. Jakarta, Riau dan Medan. Saya tahunya setelah berada di Malaysia ketika pertemuan di Hotel Marcopolo, Penang. Di sana kami berkenalan sesama utusan Indonesia yang terdiri dari jurnalis dan travel.
Sekitar pukul 11 siang (pukul 12 Malaysia) kami tiba di Malaka. Di bandara rombongan kami sebanyak tujuh orang langsung disambut oleh guide plus sebuah van yang tempat duduknya pas untuk tujuh orang.
Karena jam makan siang, langsung saja kami dibawa guide makan di Rumah Makan Baba dan Nyonya. Selesai itu, kami mutar-mutar kota Malaka dan singgah di beberapa kelenteng bersejarah dan masjid untuk sholat Zuhur. Bagi yang belum sempat menukarkan rupiahnya dengan ringgit, saat itulah waktunya kami tukar satu ringgit senilai Rp2.400.
Kami pun melaju menuju Kota Penang yang jarak tempuhnya memakan waktu delapan jam dari Malaka. Mendengar waktunya segitu, rasanya lama banget. Pasti sangat membosankan di jalan. Ternyata anggapan itu keliru. Di sepanjang jalan menuju Penang, banyak sekali pemandangan yang bisa dinikmati. Ada beberapa daerah bagian yang kami lewati termasuk kawasan perkebunan sawit yang menghampar di daratan Malaysia. Selama perjalanan, kami singgah dua kali di sebuah tempat pemberhentian yang sangat nyaman. Selain sholat Asar, kami menikmati teh tarik, sejenis minuman yang cukup dikenal di Malaysia. Rasanya seperti teh susu. Karena aku baru menginjakkan kaki ke Malaysia, aku ikuti saja apa yang banyak dipesan teman-teman.



(Dari jauh samar-samar Kota Penang terlihat dari Jembatan)


Anehnya, perjalanan selama itu benar-benar tidak terasa lelah. Karena kami tak pernah keluar dari jalan tol. Sudahlah jalannya luas, lurus, dua jalur lagi. Bedanya dengan Indonesia, jalan tol di Malaysia tidak dibatasi oleh gerbang tol, yang artinya kita harus bayar untuk menikmati fasilitas tol tersebut. Jalanan gratis, lancar dan nyaman. Rasanya di sepanjang jalan itu hanya sebentar aku tertidur. Setelah itu aku merasa rugi melewati pemandangan di kanan kiri jalan. Apalagi saat memasuki Penang dengan jembatan panjang yang menghubungi daratan Malaysia dan Pulau Pinang. Kiri kanannya laut. Tak lama dari kejauhan, barulah nampak gemerlapnya Kota Penang.
    Melihat jembatan ini aku berfikir, coba ya dari Bakauhuni ke Merak dihubungkan oleh jembatan, tentunya antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera jaraknya semakin dekat. Teringat pula olehku rencana Riau akan membangun jembatan Ro-Ro dari Dumai ke Pulau Rupat dan Pulau Rupat ke Malaka. Tentunya jarak Riau dengan Malaka juga semakin dekat. Naik speedboat saja cuma beberapa menit dari Rupat ke Malaka, apalagi kalau lewat jalat darat...(soal Pulau Rupat akan dibahas tersendiri, saat aku berkunjung ke sana setelah beberapa hari dari Malaysia)

Sebelum ke Hotel Mutiara Beach Resort, tentunya kami mencari makan malam dulu di tengah kota. Menu yang kami pilih adalah seafood. Antara lain Tom yam, ikan, cumi dan makanan laut lainnya. Tapi yang paling berkesan adalah tom yamnya. Kami berebutan. Semangkuk besar langsung habis karena kami berebutan. Ternyata kurang, kami pesan lagi. Rasanya sangat enak di lidah kami, terutama aku orang Melayu. Kalau aku nilai tak beda dengan rasa pindang atau sempedas. Bedanya terletak di asamnya saja. Kalau kami biasa menggunakan asam kandis atau belimbing wuluh atau terong asam. Kalau di Penang, lebih mengarah ke asam jeruk. Lagi pula, pedasnya yang membuat kami mau nambah lagi. Hmm...yummi..
Perut kenyang kami pun ke hotel. Jalan menuju hotel juga sangat menarik yang lebih banyak nelalui jalan pinggir laut. Sekitar tengah malam kami sampai di hotel dan oleh resepsionis hotel kami langsung diberikan kunci kamar untuk masing-masingnya. Masuk kamar, aku kaget sendiri. Besar banget. Ranjang ada dua. satu set kursi, meja rias plus lemari yang cukup besar, segala macam minuman termasuk kopi, teh plus gula, kreamer dan teko listrik untuk air panasnya. AKu pikir, besar juga ukuran hotel bintang limanya Penang. Belum lagi masuk ke kamar mandinya. Besarnya sama dengan ukuran kamar. Wah..kesempatanku untuk menikmatinya, apalagi cuma sendiri. Asyik......



Rabu, April 15, 2009

Kembali ke Pekanbaru


(Siap-siap kembali ke Pekanbaru. Sebelumnya menyempatkan diri berfoto di depan bandara Batu Berendam Malaka, sekalian mengucapkan selamat tinggal dan semoga bertemu kembali)

Sebelum kembali ke Pekanbaru sekitar pukul 11 siang, paginya kami meninjau rumah sakit yang cukup terkenal MMC (Malaka medical center). Bagi warga Riau, MMC merupakan primadona untuk berobat. Apalagi promosinya sangat gencar di Pekanbaru. Jumlah warga Riau setiap bulannya berobat ke Malaka ribuan. Makanya setiap hari penerbangan jurusan Malaka selalu penuh.Hanya dengan waktu 15 menit sudah tiba di Malaka. Begitu juga speedboat dari Pekanbaru ke Malaka yang hanya memakan waktu sekitar 7-8 jam dipenuhi penumpang. Ongkosnya pun relatif terjangkau.
Dan yang pasti bukan transportasinya yang mudah itu mengapa warga Riau lebih suka berobat ke Malaka. Pelayanan mereka memang sangat memuaskan. Mulai dari bandara atau pelabuhan, pengunjung yang mau berobat sudah disambut pihak rumah sakit. Sampai di RS, calon pasien langsung ditangani. Tak perlu menunggu. Pasien diantar sampai ke dokter yang menanganinya. Untuk keluarga sudah pula disiapkan penginapan yang relatif terjangkau di lingkungan rumah sakit. Demikian juga dokternya yang memberi penjelasan sedetil mungkin tentang penyakit pasien. Sebelumnya diobati, pasien dicheck up dulu untuk mencari dimana sumber penyakit, kemudian barulah diobati.
Karenanya, pujian demi pujian mengalir dari bibir pasien yang sudah pernah berobat ke Malaka. Tentunya dari segala sisi.
Setelah kami sampai di MMC yang ternyata tak jauh dari hotel, kami disambut dan dikumpulkan di sebuah ruangan untuk menerima penjelasan. Di sana saya sempat melihat kliping berita teman-teman di Pekanbaru (Riau Pos) yang memberitakan tentang MMC. Oleh pihak MMC, kliping berita tersebut ditempelkan di dinding, sehingga semua orang bisa membacanya.
Selesai mendapat penjelasan, kami dibawa keliling rumah sakit. Kesannya memang tak jauh beda dengan cerita yang berkembang di Pekanbaru. Pelayanan yang ramah, bersih dan mengedepankan kenyamanan.
Di MMC kami tak begitu lama, langsung menuju bandara Batu Berendam Malaka. Kami siap-siap kembali ke Pekanbaru dengan membawa oleh-oleh yang begitu banyak. Oleh-oleh terpenting sekaligus PR, adalah menulis pengamalan selama diundang Menteri Kebudayaan Malaysia, baik di Penang, Genting maupun Malaka.
UNtuk laporan tersebut tulisanku tiga kali bersambung. Sayangnya laporan itu sudah tak ada. Aku lupa menyimpannya. Ketika aku pindah kantor, semuanya juga hilang. Dan dalam blog ini, aku mencoba kembali mengingatnya, walau tak selengkap laporan awalnya. Tak apalah, yang penting aku sudah bisa mengabadikan pengalaman tersebut, yang mudah-mudahan berguna untuk semua.

Selasa, April 14, 2009

Semalam di Malaka


Pemandangan di belakang Hotel Century Malaka sebelah kanan tempat saya mengambil foto.

Ini juga view belakang Hotel Century di sebelah kiri yang diambil dari beranda hotel. Tampak di kejauhan sebuah pulau yang berdiri bangunan permanen.

(Kenteng Cheng Hong Teng, klenteng tertua di Malaka. Waktu kami ke sana, klenteng bersejarah ini sedang dipugar. Namun yang mau beribadah tetap saja ramai)


Sore hari, kami tiba di Kota Malaka yang terletak di pinggir laut. Kami langsung menuju Hotel Century untuk beristirahat dan membersihkan diri. Seperti di Penang, Genting, di hotel ini juga kami disediakan kamar untuk sendiri. Walau ukurannya tidak terlalu besar (seperti mutiara beach resort di Penang), di Century lebih mirip seperti apartemen. Ruangannya lengkap. Ada kamar tamu lengkap beserta bofet dan kursi, ruang dapur dan alat memasak, dan tentunya ruang tidur plus kamar mandi. Yang sangat menyenangkan bagiku adalah pemandangan di jendela kamar langsung berhadapan dengan laut lepas. Selain itu, tampaknya pemerintah Malaka sedang berusaha membuat sebuah pulau (atau memang sudah ada sejak dulu) yang kelihatan jangan jelas dari jendela kamarku. Jadi, walau sendiri di kamar, aku sangat enjoy menyaksikan pemandangan sambil menunggu waktu maghrib dan makan malam.
Di Malaka acara kami bebas. Tak ada penyambutan resmi. Karenanya, usai makan malam kami langsung berkeliaran, menikmati Kota Malaka di malam hari. Kebetulan di sekitar tempat menginap kami banyak berdiri mal-mal megah. Dengan jalan kaki saja kami sampai di salah satu mal. Di sini aku berkeliling dengan beberapa teman. Sebagai tanda mata, aku membeli kaset Malaysia dan sebuah film legendaris P Ramlee, berjudul Pak Belalang.
Setelah rasanya cukup berjalan, kami kembali pulang ke hotel. Ada juga yang pergi lagi ke luar dan ada yang nongkrong di club hotel sambil menikmati live music. Kalau aku mendingan di kamar, istirahat. Tapi cuma sebentar, tak lama aku dipanggil teman-teman ngumpul di kamar Iwan sambil diskusi. Maklum, besoknya kami akan kembali ke Pekanbaru.