Sabtu, Desember 06, 2008

Ulangtahunku


Aku sedang menyuapkan adikku Julia

Menyuapkan Ita

Menyuapkan Kak As (kakak sepupu)

Menyuapkan Cik Ida (adik ibu)

Menyuapkan Maktuo (kakak ibu)

Menyuapkan Ibuku

Menyuapkan ayahku

Keluarga besarku

Memotong kue tart

Seumur-umur, barulah HUT ku dirayakan. Oleh keluarga besarku lagi. Sama sekali tak kusangka dan tak akan pernah terbayangkan. Sudah kepala empat baru dirayakan. Bayangkanlah. Persoalannya selama ini aku dan keluarga besarku tak tahu tanggal persis kelahiranku. Kata kedua orangtuaku, mereka juga tak tahu kapan aku lahir. Mereka hanya mengira-ngira saja dan bertepatan dengan si anu dan si anu. SI anu malam dan aku siang. Bahkan kadang-kadang si anu siang aku malamnya. Lalu tanggal yang ada di ijazahku itu?
Ceritanya bermula ketika aku mau masuk SD. Maka diperkirakanlah umurku tujuh tahun saat itu. Setelah dikira-kira, ayahku menetapkan tanggal lahirku sama dengan kelahiran pejuang emansipasi wanita Indonesia, RA Kartini, 21 April . Kenyataan itu mau tak mau aku terima. Akibatnya aku tak pernah merayakan ultah, karena aku menganggap aku tak punya tanggal dan bulan kelahiran.
Sebenarnya tak sedikit yang memberi ucapan ultah padaku setiap tanggal 21 April. Aku hanya tertawa saja dan berterimakasih atas ucapan itu. Tapi sama sekali tak ada istimewanya bagiku.
Nah, kemarin, tepatnya akhir Syakban atau 31 Agustus 2008, kami sekeluarga biasa berkumpul untuk menyambut Ramadan, saling maaf-maafan dan makan siang terakhir bersama.  Usai makan siang, tiba-tiba aku ke belakang dan melihat piring bertumpuk. Biasanya adik-adikku tak pernah membiarkannya seperti itu. Aku pun turun tangan. Mulailah aku mencuci gelas. Tapi, baru beberapa saja yang aku cuci dengan khusyuknya, ibuku ke belakang dan memintaku untuk berhenti mencuci. Aku jawab, biar saja aku selesaikan. Tak lama ibuku kembali lagi. Setengah 'memaksa' dengan dalih beliau minta bantuanku di depan, maka aku sudahi mencuci dan beranjak ke depan
Baru saja beberapa langkah memasuki ruang keluarga, aku langsung disambut dengan nyanyian selamat ulang tahun. Lalu aku digiring menuju sebuah meja kecil yang diatasnya sudah 
tersedia sebuah kue tart berlapis coklat. Di atasnya juga sudah tersedia beberapa buah lilin yang sebagiannya sudah dinyalakan. Kontan saja aku diminta meniupnya sekaligus memotong kuenya.
    Dengan ekspresi wajah bahagia bercampur heran, aku ikuti saja kemauan keluarga besarku itu. Aku tiup lilinnya dan aku potong kue tart dan ku suapkan kepada orang-orang tercinta. Suapan pertama kuberikan kepada ayahku yang hanya pakai singlet dan 
menyandar di dinding karena merasa gerah habis makan siang. Berikutnya kepada ibuku, 
maktuo (kakak ibuku), Cik Ida (adik ibuku), Kak As (anak maktuo), Julia, Ita (adik2ku). Setelah itu 
semuanya menyerbu kue tanpa sempat aku suapkan. Kata mereka kelamaan menunggu giliran. He,he,he, aku tertawa saja 
melihat kebahagiaan di keluarga besarku itu tanpa ku duga sama sekali perayaan dadakan 
(atau mungkin sudah direncanakan?)  
Yang pasti aku tetap merasa heran, mengapa keluargaku merayakan ultahku tersebut.  Ternyata ...(ini yang membuatku tambah haru) ibuku berusaha mencari tahu kapan persisnya aku dilahirkan. Yang beliau ingat ada saudaranya yang sama-sama hamil dan sama-sama melahirkan dalam waktu yang sama. Hanya jamnya saja yang beda. Dari keterangan saudara kami itu, terkuaklah misteri 40 tahun lalu. Aku dilahirkan Senin dinihari 28 Agustus. Aku tanya lagi kebenarannya dengan ibuku. Soalnya ibuku juga pernah memberitahuku tanggal 26 Agustus. Dan tanggal ini pun hampir kupercayai karena ibuku pernah mengaku bertanya kepada saudara kami tersebut. Lha, sekarang kok berubah jadi tanggal 28 Agustus. Menjawab 
keraguanku itu Ibuku kembali meyakinkan dengan mengatakan saudara kami tersebut ikut pula meyakinkan 
kepada ibuku soal kelahiranku itu.
Aku harus percaya, karena usaha ibuku tersebut. Walau sudah setua ini beliau mencari tahu sekaligus menjawab keraguannya sendiri tentang kelahiranku. Aku maklum, ketika ibuku hanya bisa menjawab 
mereka lupa dan tak sempat mencatat kelahiranku. Waktu itu mereka masih muda, 
dan sesungguhnya mereka juga tak bisa menjawab mengapa mereka sampai tak mencatat 
kelahiranku. Pada akhirnya mereka hanya bisa mengatakan ''maklum orang zaman dulu''.
       Tentang diriku, aku merupakan anak kedua. Kakakku perempuan bernama Nurjannah, meninggal waktu kecil. Setelah aku, dua adik kembarku yang juga perempuan diberi nama Nurwita Nurwati juga meninggal waktu berumur sekitar dua mingguan. Keduanya terserang penyakit demam tinggi. Mungkin saja adik-adikku terlambat mendapat pertolongan medis, sehingga dalam waktu dekat mereka meninggal. Setelah itu aku dengar dari cerita ibu, beliau hamil lagi. Tapi keguguran. Jenis kelaminnya bisa diketahui, perempuan juga. Tak lama melahirkan lagi anak perempuan, Ruzimah. Saat ini ruzi menjadi guru di SMU 5. Kemudian adikku lahir lagi. Perempuan lagi. Namanya Julia. Hanya Ibu Rumah Tangga sambil mengamalkan ilmunya mengajar anak-anak mengaji di musalla dekat rumah. Selanjutnya adikku perempuan lagi. Rosmita, namanya. Sekarang jadi dosen di UIN Suska Pekanbaru. Adikku setelah ini barulah laki-laki, Abdul Hakim. Baru saja diangkat menjadi PNS di Pemkab Kampar, Riau. Dan si bungsu juga laki-laki, Hammam Zaki. Dia masih kuliah di UIN Suska sambil belajar bisnis buka konter HP.

2 komentar:

  1. Hahahahaha.....ini benar-benar surprise party.Met Ultah ya bu RT.... Salam hormat untuk ibu yang gigih mencari data yang akurat. Lha...ntar mau merubah akte kelahiran gak? atau buat akte kelahiran baru? hehe....mungkin bisa jadi 17 tahun.

    BalasHapus
  2. UT yang ke berapa say????20..25...30...35...40?????
    he4567.....selamat deeehhhh....dari jauh Q doakan selalu untukmu...tambah sabar tambah cantik tambah ndut...tambah segalanya deeehhh yang pasti doa yang baek2 buatmu....kangen selalu n salam buat ponakan2Q yang pinter2 n cantik juga ganteng dari tante yang cantik pula....hik4567....lv

    BalasHapus

selamat berkomentar