Minggu, April 26, 2009

Malam Hari di Pulau Rupat



Malam di Pulau Rupat gelap gulita. PLN memang belum masuk di pulau terluar Indonesia ini. Penerangan hanya dengan petromak dan beberapa lampu colok atau pelita ditambah dengan lilin.Hanya beberapa rumah saja yang terang oleh penerangan genset. Itu pun hanya rumah orang-orang yang berpunya.
Untunglah cuaca cukup cerah walau cahaya rembulan timbul tenggelam. Hanya bintang yang setia menghiasi angkasa. Kami semua duduk di depan penginapan. Kami asyik dengan kesibukan sendiri. Aku dan Evi (sekarang kepala biro ANtara Pekanbaru) duduk agak menjauh dari teman-teman pria yang asyik ngobrol. Kami mengambil posisi di bawah pohon cemara, persis di tepi pantai. Sayangnya, malam itu pantai berpasir putih itu sudah tak terlihat. Ditutupi air laut yang sedang pasang. Namun justru itu aku menemukan sensasi lain, di mana debur ombak yang memecah pantai sangat dekat dan terkadang percikan airnya menyentuh kami. Benar-benar eksotis, sangat menyenangkan dan tentu terasa tenang di hati.
Pikiranku sempat liar ke mana-mana. Teringat masa lalu. Debur ombak yang memecah pantai seakan membawa pikiranku yang menerawang itu. Kadang dibawanya jauh ke tengah laut, lalu kembali dihempaskannya ke pantai.
Yang lebih memikat berada malam hari di Rupat, nun di Selat Malaka (aku tak tahu persis apakah masuk perairan Malaysia atau Indonesia), beberapa kapal pesiar yang terang benderang, di mana setiap ruangnya dipenuhi cahaya lampu berhenti di tengah laut. Entah apa aktivitas mereka di sana. Apakah mereka sedang clubbing? Atau berjudi? Entahlah. Yang pasti keberadaan beberapa kapal pesiar itu sangat kami nikmati.
Selain itu, jauh di sana, tepatnya di langit Malaysia, cahaya lampu (mungkin) bias dari gedung gedung yang menjulang, terimbas di angkasa. Sehingga jelas terlihat dari tempat duduk kami. Ada rasa miris di hati. Betapa berbedanya, antara negeri seberang dengan Pulau Rupat. Usahkan melihat langitnya yang terang, cahaya dari rumah penduduknya entah terlihat entah tidak. AKu bayangkan kalau aku saat itu berada di Malaka atau di kapal pesiar itu, pasti aku hanya melihat kegelapan yang kelam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

selamat berkomentar