Jumat, April 10, 2009

Pengalaman Tak Terduga


Pak Lurah Pesisir, Kecamatan Limapuluh, Pekanbaru H Desfan karim MSi bersama istri saat menjenguk almarhumah Neti di kediamannya.

Pas aku buka file fotoku, terlihatlah salah satu foto ini. Alhamdulillah, ternyata tidak ku hapus semuanya. Sebelumnya, waktu kunjungan kepada warga miskin yang harus cuci darah setiap dua kali seminggu ini, cukup banyak. Tapi setelah ku dengar kabarnya meninggal dunia, aku pun menghapus fotonya. Pikirku saat itu untuk apa menyimpan foto tersebut. Di samping itu aku tak mengenali mereka. Kedatanganku ke sana hanya sebagai wartawan yang meliput kunjungan lurah terhadap warganya yang miskin tetapi belum memiliki askeskin (asuransi kesehatan miskin). Itu pun aku tak mengetahuinya kalau Pak Lurah tidak meneleponku. Karena misinya sosial, maka aku mau ikut meliput langsung. Padahal bisa saja aku meminta salah satu reporter untuk meliputnya. Kebetulan juga aku sedang santai saat itu, maka aku putuskan siap meliput kasus itu.
Kondisi Neti (kalau tak salah itu namanya), sangat memprihatinkan. Badannya yang kurus dan sakit-sakitan membuat ia kelihatan tua dari umurnya. Penghasilan orangtua sebagai pedagang kecil tak mampu mengobati Neti, apalagi harus cuci darah setiap dua minggu. Sebelum adanya askeskin, untung masih ada saudara yang mau membantunya.
Ternyata, di sebelah rumah Neti terbaring juga seorang nenek renta yang keluarganya termasuk golongan miskin. Nenek tersebut begitu lemah, tak berdaya. Ketika kami menjenguknya, matanya hanya terpejam sambil nafasnya agak lamban. Sesudah cukup rasanya menjenguk dan memberi bantuan sekedarnya, kami pun pamit pulang.
Baru saja beberapa langkah kami berjalan, kebetulan aku dan tiga orang rombongan Pak Lurah berada di barisan belakang, keluarga nenek yang sakit itu memanggil.
''Tolong, cepat ke sini lagi. Kondisi nenek nampaknya sudah sangat parah,'' ujar salah seorang keluarga nenek.
Mendengar itu aku dan tiga orang tersebut bergegas kembali ke rumah nenek. Sementara Pak Lurah dan beberapa stafnya sudah duluan pergi. Langsung saja kami masuk dan mendekati nenek. Aku langsung mengambil posisi bagian kepala nenek, agar lebih bisa membisikkan kalimat Tauhid kepadanya. Nafas nenek tinggal satu-satu. Tampaknya nenek sangat sulit bernafas. Ketika dia menarik nafasnya, rasa-rasanya kita yang ikut sesak. Tak henti-hentinya aku berbisik ke telinganya sambil mengucapkan Laa ilaaha illallah...berkali-kali sampai ajalnya tiada.
Selama hidup, baru sekali itulah aku melepas orang menghadap Ilahi rabbi. Kapasitasku sebagai wartawan lagi, yang notabenenya aku adalah orang asing bagi penghuni rumah duka. Mungkin sudah takdir kami berada di situ, sebab tak seorang pun dari keluarganya yang terdiri dari anak dan menantu serta dua cucu yang masih kecil, ikut membisikkan kalimat Tauhid. Hanya aku dan dibantu seorang staf kelurahan yang membisikkan di kuping satunya, meniru apa yang sudah ku lakukan. Benar-benar pengalaman yang sangat berharga bagiku.
Setelah kabar meninggalnya nenek diketahui warga sekitar dan diumumkan di musalla terdekat, barulah kami beranjak ke rumah dengan perasaan yang tak bisa aku lukiskan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

selamat berkomentar